21 Maret 2008

AJI tetapkan upah minimum jurnalis Rp4,1 juta

JAKARTA (Bisnis): Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menetapkan Rp4,1 juta sebagai upah layak minimum bagi jurnalis muda di Jakarta yang baru diangkat menjadi karyawan tetap.

Standar upah ini ditentukan bukan berdasarkan upah minimum regional (UMR), tapi berdasarkan komponen dan harga kebutuhan hidup layak pada 2008. Caranya, melalui pengukuran perubahan biaya hidup disesuaikan dengan kenaikan inflasi dan harga barang di pasaran.

“Standar ini kami keluarkan agar profesionalisme jurnalis bisa ditingkatkan,” kata Koordinator Divisi Serikat Pekerja Winuranto Adhi dalam acara “Jurnalis Tolak Amplop: Perjuangkan Upah Layak Rp4,1 juta” di kantor AJI Jakarta, Selasa malam.

Survei AJI menyebutkan dari sekitar 850 media cetak yang masih terbit di awal 2008, hanya 30% yang sehat bisnis. Dari sekitar 2.000 stasiun radio dan 115 stasiun televisi pada waktu yang sama, hanya 10% yang sehat bisnis.

Menurut Winurantho, kondisi industri media yang belum matang inilah yang kerap menjadi alasan pembenar bagi pengusaha pers untuk tetap menggaji rendah jurnalisnya. Oleh karena itu, standar upah ini diharapkan bisa menjadi acuan jurnalis dalam melakukan penawaran dengan media tempat mereka bekerja.

“Upah sebesar Rp4,1 juta ini tidak akan jadi apa-apa bila hanya AJI yang memperjuangkannya. Sebaliknya, Rp4,1 juta ini akan jadi apa-apa atas dukungan serikat pekerja media dan para jurnalis,” tutur Jajang Jamaludin, Ketua AJI Jakarta

Berdasarkan survei gaji jurnalis Jakarta 2008 (setelah diangkat menjadi karyawan tetap) oleh AJI, lima media dengan gaji jurnalis terbesar antara lain Bisnis Indonesia sebesar Rp4,5 juta, Kompas sebesar Rp4,1 juta, Kontan Rp3,9 juta, Media Indonesia Rp3,1 juta, dan Jurnal Nasional Rp3 juta. (tw)

(Sumber: plinplan on March 21st, 2008 @ 11:03:16)

20 Maret 2008

Mempersiapkan Dan Merancang Masa Pensiun


Saat usia sudah mencapai kepala empat dan karir sudah berada di puncak, tak ada salahnya untuk mulai memikirkan kemungkinan mengambil pensiun dini untuk mendapatkan kehidupan yang lebih tenang dan nyaman bersama keluarga.

Pensiun adalah satu tahap kehidupan yang membahagiakan, terutama bila Anda mampu merencanakannya dengan baik. Dalam merencanakan pensiun, berikut hal-hal yang harus Anda persiapkan:

A. Masa pra-pensiun: usia 40-60 tahun.

Masa ini adalah masa untuk menginventarisir diri dan mempersiapkan hidup ke depan. Terlepas dari mendapat pensiun atau tidak, sebaiknya Anda tetap mempersiapkan kebutuhan finansial Anda saat pensiun nanti.

Ada tiga faktor penting yang harus mulai Anda sesuaikan:

1. Rasa aman di bidang keuangan. Mulai menabung dan berinvestasi secara bijak sejak muda. Untuk itu perlu disiplin dan sedikit kerugian.
2. Tetap sehat. Caranya dengan mengendalikan berat badan, berolahraga teratur dan mengkonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang demi kesehatan dan kebugaran Anda.
3. Selalu bersikap positif. Tetap optimis memandang masa depan, adalah obat mujarab di masa pensiun.

Mengembangkan sikap positif antara lain:

- Merencanakan kehidupan setelah bekerja, misalnya kesibukan apa lagi yang dapat dilakukan setelah tidak berkantor?
- Cobalah sibukkan diri dengan kegiatan atau hobi, bisa juga dengan mengembangkan diri dan pengayaan pengetahuan lain yang menarik bagi Anda.
- Jika ingin tetap sehat di masa pensiun, tetaplah bergaul dan jangan mengucilkan diri.
- Lakukan olahraga dan dukungan emosional akan memberi kesehatan yang baik. Kurangnya kontak sosial akan menurunkan jumlah hormon tertentu yang mempengaruhi sistim kekebalan tubuh.
- Lakukan segala aktivitas yang mampu meningkatkan kehidupan sosial dan fisik.

B. Masa pensiun dini, pertimbangkan dengan baik.

Tanyakan pada diri Anda, sudah dapatkah Anda pensiun dini? Apa yang akan Anda lakukan bila pensiun dini?

- Rencanakan apa yang ingin dilakukan di waktu-waktu bebas, apakah Anda akan mendapat uang pesangon bila meminta pensiun dini?
- Bagaimana menyiasati kegiatan rutin yang sudah terbiasa dilakukan, pilah kegiatan apa yang harus menjadi prioritas.
- Menyiasati kegiatan rutin yang sudah terbiasa dilakukan. Mulailah memilah kegiatan dan mana yang perlu menjadi prioritas.
- Jika perlu, lakukan simulasi yang melibatkan keluarga. Sebab seisi rumah pun harus terbiasa dengan pensiun dini yang Anda putuskan.

C. Jika harus pensiun akibat pengurangan karyawan atau sakit.

Siap atau tidak siap, Anda harus memasuki masa pensiun. Bagi yang tak siap sebelumnya, masa ini akan menimbulkan stres dan membangkitkan emosi. Untuk beberapa saat, Anda akan terlihat kehilangan, murung, gelisah, cemas, depresi ringan atau terbuai masa lampau (post power syndrome).

Yang bisa Anda lakukan:

- Lakukan berbagai kegiatan agar tetap aktif, kerjakan segala sesuatu secara disiplin untuk mempertahankan kontinuitas dan pola hidup. Misalnya, tetap bangun pagi, sarapan, baca koran, berjalan kaki.
- Isi dengan kegiatan intelektual, seperti main catur, mengisi Teka Teki Silang (TTS). Kemampuan mental tak akan merosot seiring berjalannya usia. "Gunakan atau hilang" pepatah ini berlaku untuk pikiran maupun tubuh.
- Menekuni hobi atau bersekolah lagi.
- Menjadi relawan, sehingga Anda dapat menyalurkan kemampuan atau terlibat dalam kegiatan rohani.
- Tetaplah bergaul dan menjaga silaturahmi agar tidak merasa sendirian.
- Penting untuk membuat perencanaan dan tetap aktif di masa pensiun, agar hidup tetap menyenangkan bagi Anda.

(YSM)
(Sumber: halo-halo.betterlife, better future.)

Mereka yang Mundur dan Dipecat

Sejumlah perusahaan di AS, mulai dari lembaga keuangan sampai kedai kopi, memecat para eksekutifnya karena kinerja perusahaan memburuk.

Seorang pemimpin perusahaan harus mampu meningkatkan dan mempertahankan kinerja perusahaan. Jika gagal, ia harus siap lengser. Pilihannya: mengundurkan diri atau dipecat. Fenomena semacam ini bisa dilihat dalam beberapa bulan terakhir. Krisis subprime mortgage yang menerjang AS sejak Juli lalu membuat beberapa eksekutif puncak mengundurkan diri atau dipecat.

Stanley O'Neal, CEO Merrill Lynch & Co., adalah salah satunya. Ia harus mengakui kegagalannya dan memilih mengundurkan diri dari perusahaan yang telah lima tahun dipimpinnya. Akibat krisis subprime mortgage, Merrill Lynch mengalami kerugian terbesar sepanjang 93 tahun terakhir. Pada 24 Oktober 2007, perusahaan ini melaporkan telah mengalami pengurangan nilai aset (writedown) US$8,4 miliar, dan merugi US$2,24 miliar atau US$2,82 per saham.

Pukulan itu membuat harga saham Merrill Lynch ambruk dan merupakan rekor terburuk dalam lima tahun terakhir. Saham bank investasi itu anjlok 32% menjadi US$61,40 pada hari pelaporan writedown tersebut. Pendapatan Merrill Lynch pun dilaporkan jatuh 94% menjadi US$577 juta. Standard & Poor's (S&P), Fitch Ratings, dan Moody's Investors Service semuanya menurunkan peringkat kredit Merrill Lynch. S&P memotong peringkat surat utang Merrill Lynch dari AA- menjadi A+.

Menurut Geisst, penulis buku 100 Years of Wall Street, sebagaimana dikutip Bloomberg, kerugian sebesar itu hanya pernah terjadi ketika krisis utang dunia ketiga meledak pada 1980. “Bahkan saat itu pun kerugiannya tidak sebanding dengan yang sekarang ini,” ujar Geisst. Kondisi inilah yang akhirnya membuat O’Neal memutuskan mundur dari jabatannya pada 31 Oktober 2007 lalu. Pria 56 tahun itu merupakan CEO pertama Wall Street yang kehilangan jabatannya setelah terjadinya krisis subprime mortgage.

Pengganti O'Neal adalah John Thain, CEO dari NYSE Euronext, yang juga pernah menjabat sebagai eksekutif di Goldman Sach selama dua dekade. Thain dikenal sebagai sosok yang optimis. Saat ia bergabung dan menjadi CEO NYSE Euronext (NYX) pada 2004, kinerja dan citra bursa itu dalam kondisi terburuk sepanjang sejarahnya. Namun, Thain yakin dia mampu membangkitkan kembali kinerja NYX. Hasilnya sungguh memukau. Thain mampu melakukan transformasi besar-besaran sepanjang 215 tahun sejarah bursa saham NYX. Selama ia memimpin, transaksi saham di NYX meningkat tajam mencapai 600%, dan membuat NYX sebagai bursa Trans-Atlantik pertama. Tak hanya itu, pada 2005 ia pun mampu menjadikan NYX sebagai lembaga usaha bisnis yang dapat membukukan laba. Kemudian, pada 2006, ia mengakuisisi bursa saham Euronext NV yang berbasis di Paris senilai US$14,4 miliar.

Selain Merrill Lynch, lembaga keuangan lain di AS juga banyak mengalami kerugian. Citigroup, misalnya, rugi US$11 miliar. Harga saham perusahaan yang memiliki aset sekitar US$2,2 triliun itu merosot 32% pada 2007, dua kali lebih besar daripada Bank of America Corp dan JPMorgan Chase & Co. Kerugian tersebut dialami Citigroup akibat investasi sebesar US$55 miliar di subprime mortgage. Ini juga yang membuat Charles Prince, chairperson dan CEO Citigroup, mengikuti jejak O’Neal. Ia mengundurkan diri pada 5 November 2007 lalu.

Merujuk laporan kuartal III-2007, pendapatan Citigroup hanya mencapai US$22,4 miliar, dengan keuntungan bersih US$2,21 miliar. Angka keuntungan ini menurun 60% dibanding periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, Citigroup berencana mengurangi 45.000 karyawannya hingga akhir 2008.

Pengganti Prince adalah Vikram Pandit, mantan eksekutif Morgan Stanley. Berbeda dengan Thain yang kemampuannya tidak diragukan lagi oleh banyak kalangan di AS, kemampuan Pandit justru masih dipertanyakan. Pasalnya, track record-nya sebagai eksekutif belum teruji. Sebelum menjadi CEO Citigroup, Pandit bekerja di Old Lane Partners, perusahaan yang bergerak di bidang investasi, yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Citigroup. Di Morgan Stanley, pria kelahiran Nagpur, India, 50 tahun lalu ini telah berkarier lebih dari 20 tahun dengan jabatan tertinggi sebagai chief operating officer (COO).

Tak hanya O’Neal dan Prince, ternyata James Cayne, CEO Bear Stearns, juga mengundurkan diri pada 9 Januari lalu setelah mengumumkan perusahaannya membukukan kerugian US$1,9 miliar sepanjang 2007. Angka ini merupakan pencapaian terburuk pertama kalinya dalam sejarah 84 tahun perusahaan tersebut. Selain itu, harga saham perusahaan anjlok 53% di pasar New York sepanjang 2007. Menurut The Wall Street Journal, Cayne kemungkinan digantikan oleh Alan Schwartz, president Bear Stearns dan seorang bankir investasi yang terkenal dengan kemampuannya dalam pencapaian kesepakatan transaksi.

Mereka yang Dipecat

Jika para CEO Merrill Lynch, Citigroup, dan Bear Stearns memilih pensiun dini ketimbang dilengserkan, nasib yang berbeda dialami beberapa eksekutif puncak perusahaan terkemuka di AS. Mereka dipecat! Mereka itu, di antaranya, CEO Morgan Stanley Zoe Cruz, CEO Canadian Imperial Bank of Commerce (CIBC) World Markets Brian Shaw, Chief Risk Officer (CRO) CIBC Ken Kilgour, dan CEO Starbucks Corp. Jim Donald.

Morgan Stanley memecat Zoe Cruz karena perempuan berusia 52 tahun itu dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kerugian perusahaan yang mencapai US$3,7 miliar pada kuartal IV-2007. Kerugian yang diderita Morgan Stanley juga disebabkan oleh krisis subprime mortgage. Padahal, Cruz pernah dinobatkan oleh sebuah majalah sebagai perempuan ke-4 dari daftar 50 perempuan paling berpengaruh di AS. Cruz digantikan oleh John Mack.

Sementara itu, CIBC memecat dua eksekutifnya karena bank tersebut mengalami kerugian terbesar di antara bank-bank Kanada lainnya, yakni mencapai US$3 miliar. Dalam pernyataan yang dirilis pihak perusahaan yang berbasis di Toronto itu, Brian Shaw, CEO CIBC World Markets, akan digantikan oleh Richard Nesbitt, CEO TSX Group Inc. Adapun Ken Kilgour, CRO CIBC, akan digantikan Tom Woods, chief financial officer (CFO) CIBC.

Alasan yang tak jauh berbeda juga diambil oleh Howard Schultz, chairman Starbucks Corp., ketika pada 7 Januari lalu memecat Jim Donald dari posisinya sebagai CEO perusahaan jaringan penjual kopi terbesar di dunia itu. Semasa kepemimpinan Donald, kinerja Starbucks memburuk. Pemecatan Donald itu disebabkan oleh anjloknya harga saham perusahaan hingga 50% sepanjang 2007, menyusul penurunan penjualan di beberapa gerainya.

Schultz akan mengambil alih peranan Donald sebagai CEO. Ia juga menandaskan masih akan menjadi eksekutif teratas Starbucks untuk jangka panjang. Selain memecat Donald, dalam merestrukturisasi perusahaan Schultz juga berencana menutup beberapa gerai Starbucks di AS, dan mengurungkan niatnya untuk membuka sejumlah gerai baru. Belum diketahui berapa banyak gerai kopi yang akan ditutup oleh Starbucks Corp. Seperti yang dilaporkan Associated Press, Starbucks menyebut pergantian kepemimpinan itu sebagai bagian dari rangkaian inisiatif perusahaan, termasuk penutupan beberapa gerai kopi di AS yang formatnya buruk dan kinerjanya tidak terlalu bagus.

Starbucks memang berjuang keras melawan kerugian dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan penurunan daya beli masyarakat, penurunan nilai rumah, dan kenaikan harga minyak mentah. Sebaliknya, sejumlah pesaing Starbucks, seperti Dunkin' Donuts dan McDonald’s Corp., justru “menyerobot” para konsumen Starbucks dengan meluncurkan gerai-gerai kopi sendiri.

Mengutip dokumen-dokumen internal McDonald's, Wall Street Journal edisi Senin, 7 Januari 2008, melaporkan bahwa jaringan restoran makanan cepat saji terbesar di dunia itu akan menambahi gerai-gerai kopinya dengan sejumlah barista penyedia cappuccino dan kopi es di 14.000 lokasi.

Mampukah CEO-CEO baru itu memperbaiki kinerja perusahaannya yang tengah terpuruk? Jika gagal, mereka harus siap mundur atau dipecat!

(Selasa, 4 Maret 2008 11:25 WIB - wartaekonomi.com/ EVI RATNASARI)

Catatan admin: Mampukah kita mendepak bos-bos kecil maupun menengah yang jelas-jelas tidak punya prestasi dan diam-diam menghancurkan perusahaan?