(Sumber: http://isandri.blogspot.com/2007_08_26_archive.html)
Mengikuti rombongan wartawan yang tengah meliput sebuah acara secara beramai-ramai, biasanya kita akan melihat fenomena menarik yang khas Indonesia. Bila yang diliput adalah demonstrasi atau peristiwa politik yang terlihat adalah suasana pertemanan yang luar biasa kompaknya. Yang datang terlambat akan meminta informasi atau bahan dari yang datang duluan. Yang datang di lokasi lebih dulu umumnya juga dengan senang hati membagi informasi atau pers release yang didapatnya kepada sang kolega (dari media yang berbeda).
Namun, lain halnya bila yang diliput adalah sebuah konferensi pers atau undangan menghadiri product launching dari sebuah perusahaan yang memproduksi barang baru. Selesai mengikuti acara, biasanya para wartawan akan diminta panitia untuk mengisi absensi dengan cara membubuhkan tanda tangan. Acara ini kerap merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu wartawan, sebab setelah mengisi absen pihak panitia akan membagikan cinderamata beserta "amplop" berisi uang "ala kadarnya". Harap maklum, yang namanya ala kadarnya di sini berbeda-beda besarnya. Bisa sekadar pengganti uang transpor yang besarnya sekitar Rp 75.000 bisa juga uang "lelah" untuk imbalan jasa pemuatan yang berkisar antara Rp 250 ribu - Rp 400 ribu.
Menghadiri undangan instansi pemerintah, BUMN atau militer, lain lagi. Biasanya acara bagi-bagi amplop telah dikoordinir wartawan kepercayaan instansi yang bersangkutan. Tidak pernah diketahui, berapa besar uang yang diterima para koordinator itu. Yang jelas, sang koordinator membagi amplop secara seragam pada teman-temannya. Kemungkinan kelebihan amplop disimpan sendiri oleh sang koordinator. Meliput acara hiburan, seni, dunia selebritis dan artis tak jauh berbeda. Masing-masing telah punya koordinator sendiri.
Wartawan di Indonesia menganggap pemberian amplop adalah hal yang wajar. Apalagi wartawan senior yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI, Rosihan Anwar, malah menganjurkan agar para wartawan tak menolak pemberian amplop. Pada jaman PWI di bawah kepemimpinan Sofyan Lubis, sang ketua juga menganjurkan hal serupa. "Sejauh hal itu tak ada paksaan dari si wartawan atau sumber berita," ujar Sofyan Lubis mencoba berkilah bahwa hal itu tidak bertentangan dengan kode etik dan moralitas seorang wartawan.
Sikap pragmatisme para tokoh PWI yang nota bene adalah pimpinan di sejumlah media bukan tanpa alasan. Umumnya mereka melihat gaji wartawan yang telalu rendah sebagai dasar legitimasi kebijakan yang mereka berikan. "Mau apa lagi, perusahaan belum mampu menggaji wartawannya secara layak. Jadi silakan cari tambahan di luar, asalkan halal," begitu ucap sejumlah pimpinan media.
Apakah memang demikian halnya? Ternyata sejumlah penerbitan besar terkemuka lebih memilih melarang wartawannya untuk menerima amplop, karena bisa mengganggu integritas wartawan sekaligus kredibilitas lembaga. Para wartawan yang baru masuk diajari teknik menolak amplop. Mulai dari sikap terima dulu untuk kemudian dikembalikan lewat sekretaris, hingga teknik menghindari absensi. Sejumlah pimpinan media malah menerapkan kebijakan keras berupa tindakan langsung mengeluarkan wartawannya yang ketahuan menerima amplop.
Namun, yang jadi pertanyaan apakah kebijakan keras itu disertai dengan sistem penggajian yang memadai bagi para wartawannya? Jawabannya : tidak. Contoh yang terkemuka adalah para wartawan di lingkungan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang menerapkan ketentuan melarang amplop pada karyawannya ternyata tak digaji cukup layak. Gaji pokok seorang wartawan baru di Gramedia Majalah sekarang "cuma" sekitar Rp 400 ribu - Rp 650 ribu (tulisan ini dibuat pada 1 April 2000, red). Wartawan tabloid semacam Citra di lingkungan Gramedia Majalah bergaji paling rendah. Yang tertinggi adalah majalah Intisari dan Bobo yang dianggap telah mapan dan menguntungkan. Di kelompok penerbitan majalah, gaji wartawan Gramedia ini masih berada jauh di bawah rata-rata gaji karyawan Tempo, Forum, Gatra maupun Gamma.
Rendahnya (under-paid -red.) gaji wartawan memang sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Hasil survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dilakukan di Jakarta pada Mei-Juni 1999 lalu menyatakan dari 250 wartawan responden tercatat 5% bergaji di bawah Rp 250 ribu, 35% bergaji antara Rp 500-1 juta , 30% bergaji antara Rp 1-2 juta dan 8% bergaji di atas Rp 2 juta. Sayang, hasil survei AJI tak membedakan antara jabatan reporter dan redaktur.
Menurut hasil survei majalah Asiaweek Edisi 29 November 1996 yang memetakan gaji tertinggi kelompok profesional di kawasan Asia-Australia memperjelas rendahnya gaji wartawan. Menurut hasil survei gaji tertinggi reporter di Indonesia berada di urutan no 4 paling rendah setelah Cina, Vietnam dan India. Sedangkan gaji redaktur tertinggi di Indonesia menempati urutan ke 5 terendah setelah Cina, Vietnam, Filipina dan India. Negara di kawasan Asia-Australia yang paling mensejahterakan wartawannya tercatat adalah Jepang, disusul Australia, Hongkong, Korea Selatan dan Thailand.
Sejumlah media malah tak memberi gaji wartawannya. Kepada para wartawan yang baru direkurut, si pemilik media menyatakan bahwa pihaknya hanya bisa memberi kartu pers. Si wartawan dipersilakan untuk mencari uang dan kehidupan yang layak sendiri. Si wartawan diperlakukan seperti halnya anak ayam yang dilepas induknya untuk cari makan sendiri. Kondisi seperti ini paling banyak dipraktekkan para pemilik media di luar Jawa.
Kehidupan wartawan di Indonesia betul-betul tragis. Para wartawan media berpenampilan glossy ala Tiara dan Jakarta-Jakarta (keduanya telah ditutup oleh direksi Gramedia Majalah) setiap hari adalah meliput meliput orang kaya beserta gaya hidupnya yang serba "wah". Si wartawan hanya bisa gigit jari saat dipameri koleksi ratusan arloji narasumber yang mencapai nilai ratusan juta. Apa yang dilihat dan dijalani si wartawan bagai bumi dan langit. Ketika diajak makan siang narasumber si wartawan naik Baby Benz, namun ketika selesai wawancara ia harus naik bajaj untuk balik menuju ke kantor. Dasinya cuma dipakai saat pergi wawancara ke hotel, ketika kembali kekantor dasi yang sama yang cuma satu-satunya terpaksa harus dilepas karena takut kotor.
Gaji wartawan Indonesia memang memperihatinkan, kecuali media baru semacam Astaga!Com. Tak heran bila ada banyak wartawan yang kemudian terkondisikan untuk selalu "mencari" amplop guna menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Beberapa waktu lalu terbongkar ada seorang wartawan gadungan yang telah berhasil menipu sejumlah gubernur dan pejabat daerah. Termasuk Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Si wartawan dengan alasan akan melakukan kunjungan ke daerah guna membuat liputan lantas menyodorkan surat rekomendasi dari DPR pada sang pejabat yang ditemuinya. Si pajabat yang tampaknya berkepentingan agar ditulis beritanya dengan "baik-baik" lantas menyodorkan uang bernilai ratusan ribu.
Untuk menghindari kebutuhan menerima amplop, ada banyak wartawan mengambil pekerjaan sambilan. Kita juga bisa melihat ada sejumlah wartawan yang memposisikan diri sebagai jurubicara atau ghost-writer seorang pejabat. Ada juga yang jadi think-tanker seorang tokoh yang ingin muncul sebagai budayawan. Ada yang mencoba jadi penulis atau editor buku. Ada yang mencoba mengerjakan inhouse magazine. Ada yang mencoba merangkap jadi sales di bidang multi level marketing. Ada juga yang buka usaha baru dengan jadi penggalang tenaga pamswakarsa. Ada yang merangkap pekerjaan sebagai pemberi informasi pada aparat intelijen. Ada juga yang terang-terangan jadi mucikari untuk artis-artis figuran yang pernah diwawancarainya.
Fenomena amplopisme di kalangan wartawan kini telah berada dalam taraf yang betul-betul memprihatinkan. Terutama sejak masa krisis ekonomi yang dimulai pada Agustus 1997, kebanyakan para pemilik media memilih tak menaikkan gaji wartawannya tapi cuma mengkompensasinya dengan "tunjangan kemahalan".
Selain istilah amplop, di kalangan wartawan juga dikenal istilah "wartawan Bodrex", nama obat sakit kepala produksi PT Bayer Indonesia. Wartawan dari kalangan ini setiap tengah bulan selalu "sakit kepala" akibat harus memikirkan kebutuhan diri dan keluarga yang tak tercukupi. Para wartawan ini kemudian mencari-cari kesalahan orang yang bisa diperas dengan cara menuliskannya sebagai berita dan kemudian mendatangi si tokoh. Kepada sang tokoh si wartawan menyodorkan berita yang dibuatnya dan menawarkan apakah si tokoh berkeberatan dengan tulisan tersebut. Bila berkeberatan si tokoh bisa mengambil "konsep" berita tersebut asal membayar dengan jumlah tertentu sesuai kesepakatan.
Cara kerja lainnya adalah dengan mendatangi pengusaha dengan menunjukkan kartu pers dan menyatakan ingin wawancara. Para pengusaha yang umumnya telah hafal dengan langgam semacam ini biasanya akan langsung menyodorkan segepok uang sambil mempersilakan si wartawan untuk pergi.
Sejak 6 tahun terakhir sejumlah wartawan yang medianya menerapkan kebijakan melarang menerima amplop memilih jalan lain yang lebih canggih, halus dan tak mencolok mata. Mereka memberikan nomor rekening bank pada sang narasumber, hingga uang bisa langsung di transfer ke rekening bank wartawan bersangkutan. Demikian juga parsel yang di sejumlah media diputuskan untuk dibagi rata seluruh karyawan, oleh wartawan kalangan ini dianjurkan untuk langsung di antar ke rumah, bukan ke tempat kerja. Luar biasa.
Fenomena amplopisme hampir merata di kalangan wartawan. Termasuk di kalangan media terkemuka di Jakarta. Kalau pun ada media yang malu-malu menolak amplop, mereka tak malu menerima tiket pesawat, fasilitas penginapan di hotel, liburan di spa, jamuan makan, tiket nonton, bahkan voucher main golf. Artinya, yang kecil ditolak tapi yang lebih besar dan lebih nikmat diterima dengan tangan terbuka.
Di Indonesia , amplopisme tak bisa dilepaskan dari semata-mata masalah kemiskinan dan kepelitan pemilik media, tapi juga karena ketidakberdayaan wartawan dalam menuntut hak-haknya. Kebanyakan pemilik media hanya memproduksi sejumlah aturan, namun tak pernah memperhatikan sisi kesejahteraan karyawannya. Sejumlah media terkemuka yang dikenal sebagai pembela demokrasi, yang tiap hari melaporkan soal nasib buruh dan TKW, ternyata justru melarang "gerakan buruh" yang dilakukan wartawannya sendiri. Wartawan yang coba-coba terus melawan keputusan pelarangan "gerakan buruh", biasanya akan dikucilkan atau dimutasi.
Masalah amplop adalah masalah pelik yang juga terkait dengan fenomena para "penjahat" dan para "oknum" yang mempunyai jabatan dan usaha penting. Mereka ini punya kepentingan dengan adanya publikasi positif tentang dirinya. Untuk itu mereka melakukan gerakan amplopisme sebagai upaya sogokan. Yang terjadi kemudian adalah sebuah simbiosis mutualistis, di mana si wartawan dapat uang dan si tokoh dapat nama baik.
Sejumlah kalangan lebih melihat moralitas sebagai salah satu penyebab menjamurnya budaya amplop. Menurut mereka nilai-nilai moralitas bangsa ini memang tengah merosot drastis. Hal ini antara lain bisa dilihat bagaimana para wartawan yang menghadiri undangan seminar sehari biasanya datang menjelang waktu makan siang dan segera pergi setelah menikmati makan siang gratis. Artinya, peristiwa politik dan perjumpaan dengan narasumber, di mata kebanyakan wartawan, tak lebih adalah peristiwa ekonomi biasa, yaitu sekadar cari bahan dan formalitas wawancara serta bisa makan gratis.
Masalah moral dan amplop memang pelik dan khas Indonesia. Seorang mahasiswa doktoral di bidang komunikasi asal Australia pernah bertanya pada saya, "Saya tak habis mengerti kenapa bisa ada wartawan menerima uang dari orang yang diwawancarainya? Bukankah itu suap? Bukankah itu kejahatan?" Terus terang, saya tak mampu menjawabnya. Sebab masalah suap-menyuap dan kejahatan di bidang pers sepenuhnya bukan monopoli wartawan, para pemilik modal yang menguasai media juga melakukan hal serupa. Barangkali karena itulah kita perlu sama-sama perlu mengadili diri sendiri. ***
*) Stanley adalah seorang teman, juga seorang wartawan yang baik dan secara intens berkampanye menentang amplopisme dalam profesi ini.
Tampilkan postingan dengan label AJI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AJI. Tampilkan semua postingan
14 Desember 2007
"KELOMPOK KOMPAS GRAMEDIA (KKG) PAKSA JURNALISNYA KELUAR KARENA MENIKAH"
[SUMBER:
http://crew-smartfm.blogspot.com/2006/12/siaran-perskelompok-kompas-gramedia.html
08 December 2006
Siaran Pers:Kelompok Kompas Gramedia Paksa Jurnalisnya Keluar
TIM ADVOKASI PEKERJA GRAMEDIA MAJALAH
AJI Jakarta-LBH Pers-Forum Karyawan Gramedia Majalah
Jl. Prof Dr. Soepomo Komp Bier No.1A Menteng Dalam Jakarta Selatan
Telp. 83702660/70758626
PRESS RELEASE
"KELOMPOK KOMPAS GRAMEDIA (KKG) PAKSA JURNALISNYA KELUAR KARENA MENIKAH"
Tim Advokasi Pekerja Gramedia Majalah yang terdiri dari AJI Jakarta, LBH Pers dan FKGM (Forum Karyawan Gramedia Majalah), akan melayangkan gugatan ke Kelompok Kompas Gramedia (KKG) dalam kasus pemaksaan pengunduran diri dari perusahaan. Tim akan melayangkan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pekan ini, menyusul surat anjuran dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jakarta Pusat yang telah diterima pekan lalu (30/11).
Tim Advokasi telah mendampingi karyawan KKG Ade Fitria (Echi) dan Priharsa Nugraha (Arsa), dua wartawan Tabloid Soccer yang salah satunya dipaksa mengundurkan diri, sejak September lalu. Dalam forum mediasi bipartit dan tripartit, pihak KKG tetap pada keputusannya untuk meminta salah satu pihak mengundurkan dari KKG sehingga mediasi tidak membuahkan hasil. Tuntutan Tim yang mewakili tuntutan dua jurnalis tersebut adalah tetap bekerja di dalam lingkup KKG.
Kasus ini bermula dari pernikahan dan Arsa dan Eci. Keduanya sama-sama bekerja sebagai jurnalis di Tabloid Soccer, tabloid olahraga di Kelompok Gramedia Majalah-KKG. Sejak menyatakan akan menikah (29 Juli 2006), keduanya telah berusaha mencari media/unit lain di lingkup Gramedia Majalah yang menjadi tempatnya bekerja.
Namun, kedua jurnalis tersebut dihalang-halangi oleh managemen Gramedia Majalah sehingga tidak mendapat tempat baru. Salah satunya dengan menolak memberi hak untuk tidak masuk bekerja selama tiga hari karena menikah sesuai Peraturan Perusahaan (PP). Kejanggalan ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan subjektif pribadi Pemred Soccer (Angryanto R) terhadap Redpel (Echi) yang akhirnya menikah itu. Banyak bukti dan saksi yang menunjukkan hal ini.
Pihak KKG berargumen bahwa pengunduran diri salah satu pihak telah diatur di dalam Peraturan Perusahaan (PP). Padahal PP yang dimaksud adalah PP baru Tahun 2005 yang dibagikan pada 24 Juli 2006 (5 hari sebelum keduanya menikah), sementara karyawan berpegang pada PP lama.
Pada PP lama jelas disebut pada pasal 36 ayat 2 bahwa perusahaan dengan sendirinya (karena ada kata "maka") mencarikan tempat baru buat karyawan yang menikah dengan rekan satu perusahaan, sementara dalam PP baru pasal 36 ayat 2 perusahaan hanya disebutkan "dapat" mencarikan tempat bekerja yang baru. Jelas permintaan pengunduran tersebut cacat hukum.
Dalam catatan AJI Jakarta dan LBH Pers, tidak hanya kali ini KKG bersikap sewenang-wenang terhadap para jurnalisnya sendiri. Sejak 2004 lalu, telah ada sekitar 5 kasus hubungan ketenagakerjaan di lingkup KKG yang menimpa para jurnalisnya. Pada November lalu, kembali AJI Jakarta menerima laporan kasus pemutasian pengurus serikat pekerja Harian KOMPAS ke daerah karena aktivitasnya di serikat pekerja perusahaan.
Terkait permasalahan ini kami, Tim Advokasi Pekerja Gramedia Majalah, akan melawan keputusan KKG dengan menempuh jalur hukum sampai tingkat yang paling tinggi.
Jakarta, 6 Desember 2006
Tertanda,
UMAR IDRIS
WINURANTO ADHI
Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta
Kontak : 08155517333/ 98611972
DANIEL SUPRIYONO
LUDI HASIBUAN
Forum Karyawan Gramedia Majalah
Kontak : 08164847028/ 08176060765
HENDRAYANA
Direktur Eksekutif LBH Pers
Kontak : 081310062794
http://crew-smartfm.blogspot.com/2006/12/siaran-perskelompok-kompas-gramedia.html
08 December 2006
Siaran Pers:Kelompok Kompas Gramedia Paksa Jurnalisnya Keluar
TIM ADVOKASI PEKERJA GRAMEDIA MAJALAH
AJI Jakarta-LBH Pers-Forum Karyawan Gramedia Majalah
Jl. Prof Dr. Soepomo Komp Bier No.1A Menteng Dalam Jakarta Selatan
Telp. 83702660/70758626
PRESS RELEASE
"KELOMPOK KOMPAS GRAMEDIA (KKG) PAKSA JURNALISNYA KELUAR KARENA MENIKAH"
Tim Advokasi Pekerja Gramedia Majalah yang terdiri dari AJI Jakarta, LBH Pers dan FKGM (Forum Karyawan Gramedia Majalah), akan melayangkan gugatan ke Kelompok Kompas Gramedia (KKG) dalam kasus pemaksaan pengunduran diri dari perusahaan. Tim akan melayangkan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial pekan ini, menyusul surat anjuran dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jakarta Pusat yang telah diterima pekan lalu (30/11).
Tim Advokasi telah mendampingi karyawan KKG Ade Fitria (Echi) dan Priharsa Nugraha (Arsa), dua wartawan Tabloid Soccer yang salah satunya dipaksa mengundurkan diri, sejak September lalu. Dalam forum mediasi bipartit dan tripartit, pihak KKG tetap pada keputusannya untuk meminta salah satu pihak mengundurkan dari KKG sehingga mediasi tidak membuahkan hasil. Tuntutan Tim yang mewakili tuntutan dua jurnalis tersebut adalah tetap bekerja di dalam lingkup KKG.
Kasus ini bermula dari pernikahan dan Arsa dan Eci. Keduanya sama-sama bekerja sebagai jurnalis di Tabloid Soccer, tabloid olahraga di Kelompok Gramedia Majalah-KKG. Sejak menyatakan akan menikah (29 Juli 2006), keduanya telah berusaha mencari media/unit lain di lingkup Gramedia Majalah yang menjadi tempatnya bekerja.
Namun, kedua jurnalis tersebut dihalang-halangi oleh managemen Gramedia Majalah sehingga tidak mendapat tempat baru. Salah satunya dengan menolak memberi hak untuk tidak masuk bekerja selama tiga hari karena menikah sesuai Peraturan Perusahaan (PP). Kejanggalan ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan subjektif pribadi Pemred Soccer (Angryanto R) terhadap Redpel (Echi) yang akhirnya menikah itu. Banyak bukti dan saksi yang menunjukkan hal ini.
Pihak KKG berargumen bahwa pengunduran diri salah satu pihak telah diatur di dalam Peraturan Perusahaan (PP). Padahal PP yang dimaksud adalah PP baru Tahun 2005 yang dibagikan pada 24 Juli 2006 (5 hari sebelum keduanya menikah), sementara karyawan berpegang pada PP lama.
Pada PP lama jelas disebut pada pasal 36 ayat 2 bahwa perusahaan dengan sendirinya (karena ada kata "maka") mencarikan tempat baru buat karyawan yang menikah dengan rekan satu perusahaan, sementara dalam PP baru pasal 36 ayat 2 perusahaan hanya disebutkan "dapat" mencarikan tempat bekerja yang baru. Jelas permintaan pengunduran tersebut cacat hukum.
Dalam catatan AJI Jakarta dan LBH Pers, tidak hanya kali ini KKG bersikap sewenang-wenang terhadap para jurnalisnya sendiri. Sejak 2004 lalu, telah ada sekitar 5 kasus hubungan ketenagakerjaan di lingkup KKG yang menimpa para jurnalisnya. Pada November lalu, kembali AJI Jakarta menerima laporan kasus pemutasian pengurus serikat pekerja Harian KOMPAS ke daerah karena aktivitasnya di serikat pekerja perusahaan.
Terkait permasalahan ini kami, Tim Advokasi Pekerja Gramedia Majalah, akan melawan keputusan KKG dengan menempuh jalur hukum sampai tingkat yang paling tinggi.
Jakarta, 6 Desember 2006
Tertanda,
UMAR IDRIS
WINURANTO ADHI
Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta
Kontak : 08155517333/ 98611972
DANIEL SUPRIYONO
LUDI HASIBUAN
Forum Karyawan Gramedia Majalah
Kontak : 08164847028/ 08176060765
HENDRAYANA
Direktur Eksekutif LBH Pers
Kontak : 081310062794
Label:
Ade Fitria Novita,
AJI,
Daniel Supriyono,
FKGM,
KKG,
Priharsa Nugraha,
Tabloid Soccer
Arsa Pun Mundur dari Gramedia Majalah
[SUMBER: http://fkgminfo.blogspot.com/2007/04/pamit-arsa-eks-wartawan-soccer.htmlTuesday, April 24, 2007
Telah setahun lebih kasus kami berjalan. Dimulai ketika saya memohon pemindahan tugas ke PSDM pada Januari tahun lalu. Proses yang aneh dan berliku-liku. Kini, semua sudah berakhir. Setelah negosiasi, akhirnya saya dan perusahaan mencapai kesepakatan. Saya mengundurkan diri dari Tabloid Soccer.
Ketika akan menandatangani nota perdamaian, sempat terbersit keraguan di benak saya. Benarkah langkah yang saya ambil ini? Apakah dengan melakukannya saya mengkhianati kebenaran? Mengkhianati kawan-kawan FKGM yang selama ini seperjuangan, rekan-rekan AJI dan LBH Pers yang senantiasa mendampingi saya meyakini kebenaran yang saya perjuangkan? Alangkah malunya saya bila memang seperti itu.
Istri saya, rekan-rekan AJI dan LBH Pers meyakini saya bahwa tidak ada pengkhianatan di sini. Dan, saya teringat pada ucapan Abraham Lincoln. “Kita tidak bisa memenangi semua yang kita perjuangkan. Mengalahlah pada beberapa yang tidak prinsipil, dan renggutlah kemenangan pada hal prinsipil.”
Pada akhirnya, saya bersedia mundur dengan beberapa syarat. Saya tidak bisa menyebutkan di sini syarat-syarat yang akhirnya disanggupi pihak corporate itu. Namun, sebagai gambaran, jika nanti mereka benar-benar memegang kata-kata mereka, tidak cedera janji dalam memenuhi syarat-syarat saya, mudah-mudahan Gramedia Majalah, terutama Tabloid Soccer akan menjadi lebih baik. Proses memanusiakan karyawan lebih mengemuka. Dan, profesionalisme lebih diutamakan.
Untuk urusan uang, sejak awal saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa itu bukanlah hal prinsipil bagi saya. Tidak ada proses negosiasi untuk masalah uang. Kecuali saya meminta pemotongan bunga utang BRI karena saya menganggap jika harus membayar sekaligus, sudah menjadi konsekuensi logis jika bunga ke depan (yang masih ada 22 bulan lagi) tidak perlu saya bayarkan.
Jadi, begitulah akhirnya. Kiprah saya di Tabloid Soccer akan selesai pada akhir bulan ini. Saya akan meninggalkan pekerjaan saya tanpa rasa sedih. Tanpa khawatir periuk nasi keluarga yang saya bangun akan terganggu.
Alasannya adalah karena Tuhan Maha Adil. Dia Mendengar. Dengan segera, Dia menunjukkan kuasa-Nya. Mendatangkan rezeki kepada kami. Saya mendapatkan pekerjaan baru. Yang tidak saja saya anggap sesuai dengan idealisme saya, juga mendatangkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada yang saya dapat selama ini. Dua kali lipat dari take home pay saya saat ini.
Toh, dihadapkan pada karunia ini, pikiran nakal saya masih saja menyeruak. Yang kadang membuat saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak. Selama ini, di Gramedia Majalah, saya dianggap sebagai pesakitan. Saya adalah orang yang oleh Gramedia Majalah ditolak di mana-mana dengan alasan tidak memenuhi kualifikasi. Unit-unit enggan menerima saya (kata PSDM Majalah) karena kriteria saya tidak memenuhi syarat mereka. Saya sempat terusik. Sebegitu burukkah saya? Sebegitu tidak becuskah saya bekerja sehingga saya ditolak di mana-mana di Gramedia Majalah?
Ternyata, saya diterima di tempat lain. Satu dari 24 orang yang diterima dari sekitar 80.000 pelamar. Mendapat gaji berlipat ganda. Diterima setelah melalui tujuh proses seleksi yang meliputi psikotes dan kemampuan bahasa Inggris, presentasi dan diskusi, kompetensi, dua kali wawancara, dan kesehatan. Dan lucunya, posisi saya nanti sama (bahkan secara jabatan struktural, lebih tinggi) dengan salah satu posisi di Gramedia Majalah yang sempat ditawarkan kepada saya namun akhirnya menolak saya karena dikatakan kriteria saya tidak memenuhi syarat.
But, setiap orang punya penilaian sendiri. Gramedia Majalah mungkin punya kriteria sendiri. Entah apa. Yah, silakan saja. Bahkan, mungkin ke depannya saya dengan pekerjaan saya yang baru ini akan bekerja sama dengan Gramedia Majalah. Dengan mengedepankan koridor profesionalitas tentu saja.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Daniel cs dari FKGM. Saya juga berterima kasih kepada rekan-rekan lain yang selama ini menaruh perhatian terhadap kasus saya. Dan, tentu saja kepada rekan-rekan Soccer yang selama ini selalu menyemangati saya dengan kata-kata “Semua akan berakhir. Kebenaran pada akhirnya akan muncul, dan kebusukan akan terkuak.”
Kepada rekan-rekan Soccer, saya ucapkan terima kasih. Namun, kalau boleh, saya ingin berkata kepada beberapa rekan Soccer, “Kebenaran pada akhirnya memang akan muncul. Namun, tidak dalam diam. Tidak dalam jiwa-jiwa yang takluk karena dicengkeram ketakutan.”
Oia, saya juga ingin berterima kasih kepada Pemred saya, Angry yang selama ini tanpa Anda sadari, telah menjadi guru bagi kesabaran saya. “Sebagai manusia, Anda terlahir suci. Karenanya, saya yakin pada dasarnya Anda sebenarnya orang baik.”
Ga lupa, saya juga mengucapkan selamat berjuang kepada rekan-rekan Komputerakt!f. Yakinlah pada pilihan kalian untuk melawan ketidakadilan. Oke deh. Saya pamit yah. Mudah-mudahan kalian semua tetap selalu di dalam naungan kebenaran dan karunia Tuhan.
Regards,
Arsa
Telah setahun lebih kasus kami berjalan. Dimulai ketika saya memohon pemindahan tugas ke PSDM pada Januari tahun lalu. Proses yang aneh dan berliku-liku. Kini, semua sudah berakhir. Setelah negosiasi, akhirnya saya dan perusahaan mencapai kesepakatan. Saya mengundurkan diri dari Tabloid Soccer.
Ketika akan menandatangani nota perdamaian, sempat terbersit keraguan di benak saya. Benarkah langkah yang saya ambil ini? Apakah dengan melakukannya saya mengkhianati kebenaran? Mengkhianati kawan-kawan FKGM yang selama ini seperjuangan, rekan-rekan AJI dan LBH Pers yang senantiasa mendampingi saya meyakini kebenaran yang saya perjuangkan? Alangkah malunya saya bila memang seperti itu.
Istri saya, rekan-rekan AJI dan LBH Pers meyakini saya bahwa tidak ada pengkhianatan di sini. Dan, saya teringat pada ucapan Abraham Lincoln. “Kita tidak bisa memenangi semua yang kita perjuangkan. Mengalahlah pada beberapa yang tidak prinsipil, dan renggutlah kemenangan pada hal prinsipil.”
Pada akhirnya, saya bersedia mundur dengan beberapa syarat. Saya tidak bisa menyebutkan di sini syarat-syarat yang akhirnya disanggupi pihak corporate itu. Namun, sebagai gambaran, jika nanti mereka benar-benar memegang kata-kata mereka, tidak cedera janji dalam memenuhi syarat-syarat saya, mudah-mudahan Gramedia Majalah, terutama Tabloid Soccer akan menjadi lebih baik. Proses memanusiakan karyawan lebih mengemuka. Dan, profesionalisme lebih diutamakan.
Untuk urusan uang, sejak awal saya sudah mengatakan kepada mereka bahwa itu bukanlah hal prinsipil bagi saya. Tidak ada proses negosiasi untuk masalah uang. Kecuali saya meminta pemotongan bunga utang BRI karena saya menganggap jika harus membayar sekaligus, sudah menjadi konsekuensi logis jika bunga ke depan (yang masih ada 22 bulan lagi) tidak perlu saya bayarkan.
Jadi, begitulah akhirnya. Kiprah saya di Tabloid Soccer akan selesai pada akhir bulan ini. Saya akan meninggalkan pekerjaan saya tanpa rasa sedih. Tanpa khawatir periuk nasi keluarga yang saya bangun akan terganggu.
Alasannya adalah karena Tuhan Maha Adil. Dia Mendengar. Dengan segera, Dia menunjukkan kuasa-Nya. Mendatangkan rezeki kepada kami. Saya mendapatkan pekerjaan baru. Yang tidak saja saya anggap sesuai dengan idealisme saya, juga mendatangkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada yang saya dapat selama ini. Dua kali lipat dari take home pay saya saat ini.
Toh, dihadapkan pada karunia ini, pikiran nakal saya masih saja menyeruak. Yang kadang membuat saya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak. Selama ini, di Gramedia Majalah, saya dianggap sebagai pesakitan. Saya adalah orang yang oleh Gramedia Majalah ditolak di mana-mana dengan alasan tidak memenuhi kualifikasi. Unit-unit enggan menerima saya (kata PSDM Majalah) karena kriteria saya tidak memenuhi syarat mereka. Saya sempat terusik. Sebegitu burukkah saya? Sebegitu tidak becuskah saya bekerja sehingga saya ditolak di mana-mana di Gramedia Majalah?
Ternyata, saya diterima di tempat lain. Satu dari 24 orang yang diterima dari sekitar 80.000 pelamar. Mendapat gaji berlipat ganda. Diterima setelah melalui tujuh proses seleksi yang meliputi psikotes dan kemampuan bahasa Inggris, presentasi dan diskusi, kompetensi, dua kali wawancara, dan kesehatan. Dan lucunya, posisi saya nanti sama (bahkan secara jabatan struktural, lebih tinggi) dengan salah satu posisi di Gramedia Majalah yang sempat ditawarkan kepada saya namun akhirnya menolak saya karena dikatakan kriteria saya tidak memenuhi syarat.
But, setiap orang punya penilaian sendiri. Gramedia Majalah mungkin punya kriteria sendiri. Entah apa. Yah, silakan saja. Bahkan, mungkin ke depannya saya dengan pekerjaan saya yang baru ini akan bekerja sama dengan Gramedia Majalah. Dengan mengedepankan koridor profesionalitas tentu saja.
Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Daniel cs dari FKGM. Saya juga berterima kasih kepada rekan-rekan lain yang selama ini menaruh perhatian terhadap kasus saya. Dan, tentu saja kepada rekan-rekan Soccer yang selama ini selalu menyemangati saya dengan kata-kata “Semua akan berakhir. Kebenaran pada akhirnya akan muncul, dan kebusukan akan terkuak.”
Kepada rekan-rekan Soccer, saya ucapkan terima kasih. Namun, kalau boleh, saya ingin berkata kepada beberapa rekan Soccer, “Kebenaran pada akhirnya memang akan muncul. Namun, tidak dalam diam. Tidak dalam jiwa-jiwa yang takluk karena dicengkeram ketakutan.”
Oia, saya juga ingin berterima kasih kepada Pemred saya, Angry yang selama ini tanpa Anda sadari, telah menjadi guru bagi kesabaran saya. “Sebagai manusia, Anda terlahir suci. Karenanya, saya yakin pada dasarnya Anda sebenarnya orang baik.”
Ga lupa, saya juga mengucapkan selamat berjuang kepada rekan-rekan Komputerakt!f. Yakinlah pada pilihan kalian untuk melawan ketidakadilan. Oke deh. Saya pamit yah. Mudah-mudahan kalian semua tetap selalu di dalam naungan kebenaran dan karunia Tuhan.
Regards,
Arsa
Label:
AJI,
Daniel Supriyono,
FKGM,
Gramedia Majalah,
Priharsa Nugraha,
PSDM,
Tabloid Soccer
Langganan:
Postingan (Atom)