Tampilkan postingan dengan label Majalah TIARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah TIARA. Tampilkan semua postingan

11 November 2008

Matinya Tiara Versi Manajemen Gramedia Majalah

Inilah kisah matinya Majalah TIARA versi manajemen Gramedia Majalah sebagaimana dikutip dari majalah Tempo. Dari cerita ini, sedikit-banyak kita mungkin bisa menarik kesimpulan, bagaimana ideologi manajemen Gramedia Majalah yang waktu itu sedang lucu2nya kemudian dikembangkan. Adapun komentar saya? Emang Gue Pikirin? Hahaha. Selamat membaca:

Setelah delapan tahun, Gramedia menyetop Tiara, menggantinya dengan tiga tabloid dan satu majalah baru.

GRAMEDIA akhirnya "kecipratan" krisis moneter. Grup media terkuat Indonesia yang punya 12 majalah dan tabloid--serta harian beken Kompas--itu harus kehilangan Tiara, majalah gaya hidup yang cukup populer. Senin pekan lalu, para petinggi manajemen Gramedia Majalah mengumumkan, Tiara tidak akan terbit lagi mulai Januari mendatang. Keandalan manajemen dan kerapian jaringan pemasaran grup besar ini rupanya belum cukup ampuh menahan jatuh bebasnya pasar majalah dan kue iklan saat ini.

Sebenarnya, upaya penyelamatan telah dilakukan. "Sudah bertahun-tahun kami mencari di mana letak kesalahannya. Dan kami sudah lelah," kata Widi Krastawan, Wakil Direktur PT Gramedia Majalah. Selama delapan tahun di bawah Gramedia, Tiara sering mengalami bongkar pasang. Konsep isinya beberapa kali diubah. Begitu pula strategi pemasaran dan pencarian iklan. Yang terakhir, majalah yang semula terbit mingguan ini diubah menjadi bulanan. Toh, strategi ini tak banyak menolong, sampai akhirnya Gramedia angkat tangan, menyerah.

Itu lantaran angka-angka pendapatan Tiara terus meluncur ke bawah seperti jet coaster. Pukulan seperti datang dari berbagai penjuru. Angka produksi makin berat nomor demi nomor, apalagi Tiara memakai kertas luks--bukan kertas koran biasa. Tirasnya pun terus terjun bebas hingga akhir semester pertama 1998 tinggal tersisa separuh dari tiras sebelumnya. "Padahal yang semester satu itu pun sudah drop dari Januari 1998," ujar Widi. Terakhir, tiras Tiara bertengger di angka 18 ribu eksemplar, sangat jauh dari target yang ditetapkan--pada angka di atas 40 ribuan.

Pendapatan iklan juga merosot sampai 70 persen. Menurut Adrian Herlambang, wakil direktur bidang bisnis Gramedia Majalah, selama ini produk-produk yang beriklan di Tiara adalah barang bermerek. Celakanya, justru produk-produk bermerek inilah yang iklannya sangat rontok. Tahun lalu, merek-merek ternama produksi PT Great River, seperti Kenzo atau Arrow, memang masih beriklan di Tiara. "Kalau perusahaannya ada, masih bisa kami bujuk untuk pasang iklan. Tapi sekarang ini perusahaannya sendiri sudah tak ada," kata Widi.

Segmen pembaca yang dibidik Tiara, orang kantoran atau yang biasa disebut EBG (eksekutif baru gede), juga menjadi faktor yang menyulitkan Tiara untuk menjaring iklan. Widi menduga, karena segmen ini juga menjadi pembaca majalah berita, pengiklan mungkin lebih memilih memasang iklan di majalah berita yang tirasnya jauh lebih besar. Ini pertimbangan efisiensi bisnis, tentu saja.

Dengan membanjirnya majalah dan tabloid di pasar, pembaca pasti lebih selektif dalam membeli majalah. Dan majalah berita tampaknya lebih dipilih orang kantoran. Menurut survei Sofres-Frank Small & Associates yang dilakukan September lalu, tiras majalah berita justru meningkat sekarang ini. Dari 20 besar majalah yang disurvei, kecuali Gatra, jumlah pembaca majalah berita seperti Forum, D&R, dan Ummat meningkat cukup signifikan. Ini kebalikan dengan jumlah pembaca majalah "nonberita", yang kebanyakan menurun tajam.

Mengamati perubahan "angin" di pasar, Gramedia banting setir. Kelompok bermodal kuat yang bermarkas di Palmerah, Jakarta itu seperti menerapkan pepatah: hilang satu tumbuh seribu. Tutup Tiara, buka lagi yang lain. Karyawan Tiara tidak akan mengalami pemutusan hubungan kerja karena Gramedia malah akan meluncurkan beberapa media baru. Ke sanalah eks karyawan Tiara akan didistribusikan. "Kami akan punya jalur-jalur baru tapi kira-kira lebih spleteran dari yang sudah ada," kata Widi.

Rencananya, setelah Lebaran, Gramedia akan meluncurkan spleteran alias limpahan dari beberapa media yang selama ini sudah diterbitkannya. Ada Nakita, spleteran dari Nova, tabloid yang ditujukan untuk ibu dan anak. Ada Motorplus, dari Otomotif, tabloid khusus untuk sepeda motor. Ada pula majalah Sedap Sekejap dan Info Metro, tabloid yang berisi berita seputar Jakarta.

Jadi, tak ada alasan untuk pesimistis. Sebab, "Kami sudah cukup lama main di situ. Lagi pula kami enggak perlu banyak uang karena bisa memanfaatkan bahan-bahan yang sudah ada," ujar Widi. Apa boleh buat, mengongkosi media baru rupanya lebih berprospek ketimbang terus "menginfus" Tiara yang sudah kekurangan darah. Maka vonis mati bagi Tiara adalah pilihan berat yang tak bisa ditawar lagi.


Gabriel Sugrahetty, Raju Febrian

11/XXVII 15 Desember 1998

25 Mei 2008

Bikin Majalah Itu Gampang (di Gramedia)

Orang Gramedia Majalah itu hebat-hebat. Bikin majalah, kayak bikin anak. Ceprot-ceprot. Hanya dalam waktu singkat, begitu bos di rapat memutuskan, majalah bisa langsung terbit. Bagus. Namanya, Gramedia Majalah. Bikin majalah mah perkara sipil.

Saya tidak memfitnah. Sumpah. Dulu waktu saya diminta membuat majalah TIARA, pun begitu. Mas Wendo hanya memberi waktu saya sebulan untuk staffing. Waktu saya bilang, mustahil karena PSDM (waktu itu) tidak punya database calon karyawan/ wartawan, Mas Wendo tidak mau tau. “Terserah kamu. Pokoknya bulan ketiga, terbit.”

Karena saat itu saya sudah jadi orang Gramedia Majalah dua tahun, maka saya bisa. Belum genap sebulan saja saya sudah berhasil merekrut 10 calon karyawan dan wartawan. Tentu saja, yang saya samber adalah orang-orang yang saya kenal, seperti Tine (Yustina Endah Rahayu) untuk sekretaris saya, Julie Erikania, dll. untuk reporter saya. Untung waktu itu belum ada istilah KKN. Juga, untungnya, mereka belakangan juga harus melewati test seperti lainnya. Ada yang diterima, ada pula yang terpaksa tidak terpakai. Biasa.

Saat itu, datang Dharnoto, yang kebetulan, sudah tidak betah di Jakarta-Jakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, Dia saya jadikan Redaktur Pelaksana. Eh waktu lagi jalan, banyak wartawan dan karyawan JJ yang melamar juga. Enak saja. Yang saya terima Wicki, karena --hehehe....-- pacarnya teman saya, Gadung Bondowoso.

Ah, ini sekadar cerita betapa mudahnya bikin majalah waktu itu, entah sekarang, ketika zaman susah, persaingan banyak yang membuat konon para bos gampang bete.

Nah, persoalan baru muncul waktu majalah tersebut harus dijual.

Bos mah enak. Sambil duduk makan tempe goreng dan kopi (waktu itu sajian rapat adalah tempe goreng, kalau sekarang saya dengar sudah mulai Pizza Hut, dan Hoka Hoka Bento ya?) dia santai saja memasang target tiras penjualan selakigus memasang target perolehan iklan yang harus diraih dalam kurun waktu tertentu.

Kucluknya, para pimpinan di marketing seperti bagian penjualan (distribusi), dan iklan, mengangguk-angguk saja kayak burung kuntul. Mereka paling langsung meminta bagian promosi supaya mendukung. Usulan pun berhamburan untuk bikin alat promosi. Yang paling populer diusulkan waktu itu adalah: stiker, topi dan pulpen. Hahaha....

Begitulah, rapat bubar.

Adegan-adegan lucu mulai terjadi pada saat rapat evaluasi, pada bulan berikutnya, karena ternyata target meleset jauh.

Bagian distribusi ternyata tidak bisa menjual majalah sebagaimana yang ditetapkan. Demikian juga pihak iklan ternyata tidak bisa mendapat doku sebagaimana yang ditargetkan.

Para pihak yang disalahkan, tentu saja tidak mau kehilangan malu. Heran, seperti paduan suara mereka menuding bagian promosi, tidak bekerja optimal.

Orang distribusi bilang, stiker –seperti halnya Bantuan Langsung Tunai-- tidak disebar ke alamat yang tepat sehingga tidak tepat sasaran. Orang iklan mengamini. “Stikernya, kurang berkelas sih. Gampang luntur…..”

Orang promosi mulai gerah. Kalau boleh saja, dia pengen membanting gelas, dan mengobrak-abrik tempe goreng di meja rapat. Tapi melihat mata bos mentheleng, nyali merosot juga.

Supaya kelihatan tidak salah, paling gampang dia ganti menuding. “Redaksi sih…. Covernya jelek. Tidak berkelas. Isinya tidak bagus. Jadi percuma saja, promosi yang kita lakukan.”

Dan jangan lupa, di ruang rapat itu, juga biasanya ada petugas bagian pra-cetak. Tapi seperti sejawatnya, mereka juga biasanya, pinter ngeles. Kalau masalahnya agak serius, seperti dibilang separasinya meleset, atau warnanya enggak muncul, Mbak Lis (uups sori, saya keprucut nyebut nama) biasanya sudah punya formula khusus untuk 'menaklukkan' sampeyan. (Hehehe.... kalau ketemu, salam dari KJ!)

Nah kalau adegan-adegan mirip di atas berlangsung terus, --artinya tiras majalah Anda tidak naik-naik, atau iklan di majalah sampeyan tidak nambah-nambah juga-- dan Anda sebagai redaksi berada di pihak yang tidak berkutik sama sekali, yah, tunggu nasib sajalah. Majalah Anda --lambat atau cepat-- akan dilikuidasi alias ditutup. Kalau Anda dianggap menyebalkan, tidak kooperatif, malah lebih celaka. Anda dikasih target baru: boleh terus terbit, tapi harga majalah Anda dinaikkan. Mampus gak tuh. Jangan pikir macam-macam. Karyawan dan wartawan Anda akan diBKO-kan ke bagian mana saja. Yang suka artis, masuk ke tabloid artis, yang perlente masuk tabloid wanita, yang suka komputer masuk ke majalah komputer, yang suka tanaman dan bercocok tanam ya masuk ke .... bagian umum!

Anehnya, bagian distribusi, promosi, pra-cetak atau iklan sampai sekarang --di zaman reformasi, dan sudah ganti 4 presiden dan pak jakob pensiun-- tetap tidak pernah dilikuidasi untuk kesalahannya. Bukankah mereka juga seperti rocker, alias manusia juga, yang mestinya bisa bersalah? Atau cari penggantinya susah?

Hehehe... Saya tidak tau, apa dagelan semacam itu masih berlangsung di ruang rapat Anda. Kalau ya, kabari saya.

30 Desember 2007

Jakob Oetama: Perusahaan Ini Diberkati Tuhan

(Untuk memberikan contoh kepemimpinan bagi dunia usaha dan bagi bangsa, Majalah SWA, Synovate Research Reinvented, dan Dunamis memberikan penghargaan bagi Chief Executive Officer (CEO) terbaik tahun 2003, Senin (26/1/ 2004). Penghargaan diberikan kepada 10 CEO dari berbagai perusahaan berbeda yang telah mampu menunjukkan kinerja dan kepemimpinan terbaik bagi perusahaan masing-masing. Dari kesepuluh CEO, Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Jakob Oetama terpilih sebagai CEO terbaik. Rupanya SWA mewawancarainya dan memuat di majalahnya. Karena terus terang saja, saya termasuk 'pengagum' JO --begitu bos KKG itu biasa disebut -- maka saya kutipkan di sini. Mudah2an memberi banyak manfaat untuk Anda. )

Rabu, 21 Januari 2004

Oleh : Henni T. Soelaeman

Sosoknya dikenal santun, bersahaja, dan pemalu. Ia mengangankan kemakmuran bagi Indonesia mini yang bernama Kelompok Kompas Gramedia. Bagaimana ia memimpin lebih dari 10 ribu karyawannya?

Pada penghujung Januari 2001, matahari baru sepenggalah, seorang karyawan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) bergegas memasuki lift. Ketika angka enam menyala dan pintu lift terbuka, perasaan sukacita masih menyergapnya.

"Gile, gue mau ngomong apa, ya," batinnya seraya terus melangkah menyusuri koridor sebelum akhirnya masuk satu ruangan. Ia masih tak percaya saat sekretaris Jakob Oetama menelefonnya. "Dipanggil Bapak." Selama lebih dari lima tahun bekerja sebagai karyawan KKG, baru pertama kali ini ia menjejakkan kaki di ruangan itu dan bertemu dengan Jakob Oetama, berdua saja di ruang kerja Presiden Direktur dan Chief Executive Officer KKG.

"Terima kasih atas bantuan yang Bapak berikan." Kalimat itu langsung meluncur dari mulut si karyawan itu begitu berhadapan dengan Jakob. Pada hari sebelumnya, atasannya memberikan titipan bantuan dari Jakob atas musibah yang menimpa keluarganya. "Saya ini seorang ayah yang memiliki banyak anak. Kamu layaknya seorang anak yang kalau punya masalah atau persoalan datang ke bapaknya." Kalimat yang disampaikan Jakob itu sampai saat ini masih tersimpan di memorinya.

Sepenggal kenangan juga disimpan August Parengkuan, wartawan senior Kompas dan Presiden Direktur PT Duta Visual Nusantara Tivi (TV7). Ketika berada di Australia untuk tugas jurnalistik, Jakob Oetama menelefon istrinya.

"Ia menanyakan kabar keluarga, termasuk anak-anak, selama saya pergi. Bagaimana saya tidak terharu," kenang August. Menurut dia, bukan hanya ia saja yang mendapatkan perhatian khusus. Karyawan lain pun memperoleh perlakuan yang sama dari Jakob. Bos KKG itu sering jalan-jalan mendatangi unit lain.

Sapaan, semisal selamat pagi, apa kabar, meluncur dari bibir Jakob saat berpapasan dengan karyawan KKG, entah itu office boy, staf, sampai manajemen puncak. Terkadang Jakob sekadar tersenyum atau menepuk bahu atau punggung karyawan yang ditemuinya. Tengah malam menjelang dini hari, meski tidak serutin dulu, Jakob menyambangi percetakan. "Bayangkan, CEO yang memimpin 10 ribu karyawan bersikap seperti itu," ujar August.

August juga merekam kenangan lain. Saat Jakob masih menjadi komandan Kompas, sering tiba-tiba saja ia muncul di ruang redaksi. "Sedang mengerjakan apa? Ada kesulitan atau tidak? Sudah makan?" Begitu J.O. -- panggilan akrab Jakob -- menyapa anak buahnya yang berkutat dengan deadline. Pada hari tertentu, ruang redaksi Kompas ?pecah? oleh jeritan kaget seorang rekan karena mendapatkan kartu ucapan selamat ulang tahun di mejanya dari J.O. "Sekarang jarang, ya, karyawannya sudah ribuan," aku Jakob.

Jakob dikenal luas sebagai orang bersahaja. "J.O. ditawari fasilitas mobil Mercedes Benz, namun ia menolaknya," cerita August. August, yang menambahkan, sebenarnya J.O juga pemalu. Ia sering terlihat berdiri sendirian di pojok saat menghadiri pesta. Ia juga memilih datang sendiri, tanpa sang istri. Selain pelahap buku dan jogging setiap pagi, tak banyak karyawan yang tahu kehidupan pribadi Jakob. Memanusiakan manusia, begitulah filosofi J.O.

"Saya sosok yang I do care," ungkap J.O. Ia tak pernah memandang level karyawan. Siapa pun disapanya. Siapa pun dia dijenguknya kalau mendapatkan musibah, semisal keluarganya sakit atau meninggal. Saat sopir kantor di kampung sakit, J.O., seperti diceritakan August, menengok ke rumahnya. "Ibaratnya kami bekerja di sini diuwongke," kata August. Tapi, beberapa tahun terakhir ini, karena faktor usia yang sudah merambat tua, J.O. mengaku tak selalu menyambangi langsung ke rumah karyawan yang tertimpa musibah. "Sudah tak sekuat dulu dan karyawannya makin banyak," tuturnya.

Perhatian dan kepedulian Jakob setali tiga uang dengan perilakunya yang santun, bahkan kerap dinilai oleh karyawannya kelewat santun. Sebagai orang Jawa, Jakob dipandang sangat njawani. Di lingkungan KKG, Jakob dikenal sebagai pribadi yang menjaga perilaku.

"Ia takut menginjak kaki orang lain, takut menyinggung orang lain," ungkap seorang karyawan. Bahkan, menurut Vaksiandra, Redaktur Pelaksana majalah Hai, "Kultur yang dibangun di KKG juga kultur Jawa, sangat kulonuwun, ewuh pakewuh," katanya. Di matanya, pribadi Jakob yang terlalu njawani dengan sikap rendah hati membuat sosoknya sebagai pemimpin tidak tampak jelas.

"Kalau ingin melihat sosok sebenarnya J.O., lihat saja bagaimana bahasa Kompas. J.O. itu tidak meledak-ledak dalam menyampaikan kritik, bahasanya halus padahal nyelekit bagi yang memahami makna yang tersirat di balik kalimat itu," ujar August.

Perilakunya yang santun dan ewuh pakewuh tak jarang justru menjadi bumerang bagi perusahaan. Saat Jakarta-Jakarta, Tiara, dan Raket harus ditutup, Jakob tak mengambil langkah pemutusan hubungan kerja (PHK).

Karyawannya disalurkan ke unit bisnis lain atau ke media lain di bawah payung KKG. Padahal, SDM di unit tersebut sejatinya sudah pas. "Akhirnya, ya dijejal-jejali dan buntutnya menjadi tidak produktif," tutur karyawan yang tak mau diungkap jati dirinya itu. Dalam perjalanannya, PHK akhirnya diberlakukan bagi karyawan Raket. Itu pun berkat desakan karyawan. Imbalan pesangon yang sangat besar -- untuk ukuran media baru dan tengah collaps -- lantas diberikan Jakob.

Kepedulian dan perhatian J.O. kepada karyawan yang terpancar dari prinsip I do care tersebut diterapkan sebagai falsafah manajemen di lingkungan perusahaan. Dalam memberdayakan karyawannya, J.O menerapkan falsafah We do care. Manajemen, menurut dia, wajib seoptimal mungkin menerapkan falsafah We do care sebagai wujud kewajiban perusahaan atas hak karyawan.

Sebagai wujud falsafah ini, ia mengaku selalu berupaya peduli atas segala kebutuhan karyawannya. "Kita harus tahu apa yang diinginkan oleh karyawan. Dengan kepedulian, berarti kita menghargai keberadaan mereka. Jangan hanya memperlakukan mereka sebagai mesin penghasil uang," katanya.

Tak heran, Jakob begitu memperhatikan kesejahteraan karyawan. "Imbalan yang pas sesuai dengan beban kerjanya akan membuat karyawan lebih termotivasi bekerja dengan lebih baik," jelasnya. Meski begitu, ia menganggap sistem penggajian di KKG belum sempurna. Menciptakan perusahaan yang adil, makmur, dan merata bagi seluruh karyawan --"Itu cita-cita J.O.," ungkap August.

Menurut dia, J.O. sangat peduli atas masalah hak karyawan, seperti gaji dan tunjangan supaya karyawan KKG hidup lebih layak. Saking pedulinya, khususnya di level bawah atau staf, J.O. lebih dulu membuatkan perumahan bagi karyawan level bawah. Sementara itu, karyawan di level manajemen menengah atas belakangan. "Ha..ha..kita pernah iri atas kebijakan itu. Kok, kita dapat rumahnya belakangan?" cerita August.

Bagi Jakob, menyejahterakan karyawan itu kewajiban perusahaan. "Mereka aset, ya harus mendapatkan hak-haknya dengan baik," katanya. Menurut dia, dengan tingkat kesejahteraan yang baik, karyawan pun akan termotivasi memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Mereka juga menjadi loyal. Secara jujur, ia bangga bahwa turn over karyawan di perusahaannya relatif kecil. "Di bawah 5%," tambahnya. Kata seorang karyawan yang tak mau diungkap jati dirinya, "Jakob tahu sekali bagaimana membuat karyawan betah bekerja di sini."

Ibarat pisau bermata dua, sikap We do care perusahaan bukannya tak menerbitkan riak. Ia tidak menampik bahwa upaya selalu memenuhi kebutuhan karyawannya agar sejahtera menciptakan pegawai yang cenderung terlena dengan segala kemapanan yang diperoleh karena bekerja di KKG dan tidak didapatkan di tempat lain. Buntutnya berkembang istilah rajin malas sama saja alias RMS. Pasalnya, sistem penggajian dan pemberian fasilitas KKG sangat jelas. Parameternya ialah lama bekerja, bukan pada performa karyawan.

Prestasi karyawan lebih untuk mendongkrak posisi. Misalnya, tahun ke berapa mendapatkan fasilitas pinjaman rumah, kendaraan, atau yang lain, jelas tertuang. Artinya, rajin atau malas, fasilitas dan tunjangan tetap diberikan. "Namun kami saat ini sudah menerapkan pemberdayaan SDM melalui sistem penilaian karya," kata Jakob. Dengan sistem ini, diharapkan karyawan lebih termotivasi menunjukkan kinerjanya. "Supaya juga tidak ada istilah RMS itu," ungkap J.O. Penilaian karya ini dievaluasi setiap enam bulan dan dipantau terus-menerus oleh pihak SDM.

Ruang seluas 30-an meter persegi di lantai 6 Gedung KKG, Jalan Palmerah Selatan, berhawa sedikit panas, sepertinya pendingin ruangan tidak berfungsi dengan baik. CEO KKG, Jakob Oetama, menerima tim SWA. "Saya hanya punya waktu sampai pukul 11.15 ya, karena ada janji bertemu orang," kata J.O.

Di dinding ruang bercat putih itu, waktu menunjukkan pukul 10 lewat 5 menit. Jakob terlihat santai dengan kemeja biru muda dipadu celana biru tua lengkap dengan dasi bermotif garis bintik-bintik dan tanda pengenal melekat di dada kirinya. Ballpoint Montblanc terselip di saku kemejanya.

Kami dari SWA duduk di sofa berwarna krem. Lemari berisi buku koleksi Jakob berderet rapi sepanjang lebih dari lima meter. "Bagaimana perasaan Bapak terpilih menjadi The Best CEO?" SWA memulai perbincangan. Jakob tak langsung menjawab. Sejurus ia diam lantas menyungging senyum. "Itulah, saya pakewuh," katanya.

Ia mengaku surprise sekaligus heran karena terpilih sebagai The Best CEO 2003. "Semestinya orang lain saja yang lebih muda usia yang meraih ini. Saya sudah tua lho, 72 tahun," tambahnya. Wajah sepuh-nya memang tergurat jelas pada garis mukanya. Rambutnya yang dibiarkan agak gondrong menyembulkan gumpalan uban.

"Kalau boleh saya menilai diri saya sendiri, saya itu orangnya ngemong. Mungkin karyawan suka kepada saya karena sikap ngemong ibarat bapak kepada anaknya," papar J.O. mengomentari bahwa terpilihnya ia sebagai The Best CEO karena penilaian pegawainya juga. "Sebenarnya, saya tidak sehebat seperti yang dibicarakan karyawan saya. Sebetulnya saya biasa-biasa saja," katanya.

Selama memimpin KKG, ia menegaskan falsafah leadership yang dianutnya ialah falsafah ngemong. Arti ngemong baginya itu menggerakkan, mengajak, memotivasi, menyemangati, menjelaskan, dan bagaimana melakukan komunikasi. Di matanya, kunci keberhasilannya ialah berkomunikasi dengan seluruh karyawan dari semua level. "Komunikasi itu sangat penting," katanya.

Bentuk komunikasi sederhana yang dianutnya ialah sekadar menyapa karyawan: apa kabar? selamat pagi! Komunikasi tersebut dijabarkan juga lewat forum karyawan di setiap unit usaha. Secara berkala, ia mengadakan pertemuan dengan direktur seluruh unit bisnis. Pertemuan resmi ia dengan seluruh karyawan KKG dilakukan setiap acara syukuran tahunan yang jatuh pada Januari.

Menurut dia, acara tersebut sangat ditunggu-tunggu seluruh karyawan KKG. "Karena pada acara itu Bapak mengumumkan kenaikan gaji. Tahun ini, berapa persen?" timpal SWA. "Kok tahu?? tanyanya, keningnya mengerenyit. Tanpa menunggu jawaban SWA, ia menambahkan, "Ya, itu sebenarnya yang ditunggu-tunggu karyawan," katanya menyungging senyum.

Untuk mengomunikasikan visi, misi, dan garis besar kebijakan perusahaan kepada seluruh karyawan, J.O. menjelaskan bahwa KKG memiliki pedoman baku perusahaan, yang seluruh karyawan wajib mematuhinya. Ini termasuk melalui sharing knowledge dan experience dengan pegawai yang dilakukan lewat pertemuan rutin, baik langsung di depan karyawan, lewat forum karyawan, atau acara lain.

Guna mempercepat pencapaian visi dan misi, J.O, menekankan kerja sama tim. Tim kerja yang solid dan baik memudahkan dan mempercepat pencapaian visi dan misi yang ingin dicapai perusahaan. Ia melihat dirinya sebagai sosok team builder. Baginya, sosok pemimpin itu harus mampu menjadi team builder.

Sebagai pemimpin, J.O. mengakui dirinya bukanlah orang yang menguasai banyak hal. "Saya harus tahu diri bahwa saya tidak menguasai semua hal atau banyak hal," ucapnya. Ia lebih senang membangun tim yang terdiri atas beberapa orang yang memiliki kelebihan masing-masing dengan pembagian kerja dan tanggung jawab kerja yang jelas. "Seluruh anggota tim bertanggung jawab baik atas kesuksesan maupun kegagalan," jelasnya.

Adanya tim kerja membuat dirinya bisa lebih memobilisasi karyawannya dengan segala kelebihan di bidangnya. Ia sadar bahwa perusahaan ini memiliki keragaman keahlian. Perusahaan ini memerlukan keahlian di berbagai bidang agar bisa tetap jalan. Bermacam keahlian itu dijadikan satu dalam forum atau tim, baik di tingkat corporate management maupun di setiap unit usaha.

Dengan beragam SDM yang memiliki beragam keahlian, latar belakang, dan budaya, J.O. memilih melakukan pendekatan kultural. Melalui pendekatan ini, ia berusaha memahami dan mengerti bagaimana sifat, karakter, dan perilaku karyawannya yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda. Meskipun berbeda, J.O. menginginkan ada kultur yang berlaku umum bagi seluruh karyawan di dalam ruang lingkup KKG.

Salah satu kultur di KKG ialah budaya kerja tim yang harus terus-menerus dibina dan dibangun. Lewat tim, berarti ada komitmen bersama yang patut disepakati bersama." Dengan adanya tim kerja, tujuan akan lebih cepat tercapai sehingga waktu dapat dimanfaatkan secara optimal dan efisien," tegasnya.

Sebagai pucuk kepemimpinan yang menaungi kemajemukan, ia berupaya seadil mungkin memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh karyawan untuk maju dalam konteks demi kemajuan perusahaan. Ia mengibaratkan KKG sebagai Indonesia mini.

"Beragam suku, budaya, agama, etnis, ada di sini. Ini menjadi sumber kekuatan perusahaan," katanya. Ia ingin menciptakan Indonesia mini yang makmur, kaya, dan adil di dalam lingkup perusahaan. "Sejak mendirikan perusahaan ini, saya sudah mencanangkan akan membawa perusahaan ini sebagai Indonesia mini," jelasnya.

Sebagai komandan, J.O. berupaya menyelaraskan penerapan sistem manajemen bisnis yang baku dengan suasana kekeluargaan. "Sejak awal, saya ingin perusahaan ini sebagai keluarga kedua bagi karyawan karena mau tidak mau sebagian besar waktu karyawan itu dihabiskan di kantor," tuturnya.

Menurut dia, kelugasan sikap, ketelitian, kedetilan, dan ketepatan waktu, serta perhitungan eksak sangat diperlukan dalam bisnis. Toh, bisnis yang bernuansa kekeluargaan juga bukanlah hal yang jelek. Dalam pandangannya, suasana kekeluargaan dan keharmonisan penting bagi kemajuan bisnis.

"Kita harus bisa menyeimbangkan antara kepentingan manajemen bisnis dengan asas kekeluargaan," tegasnya. Caranya? "Bersama almarhum P.K. Ojong, sejak awal berusaha betul menerapkan dan menjalankan Good Corporate Governance (GCG)," katanya.

GCG, menurut dia, diperlukan untuk menyeimbangkan antara kepentingan bisnis yang sakelijk dengan bentuk manajemen kekeluargaan. Jurus yang dilakukannya ialah membuat sistem kontrol yang jelas, baku, dan hitam putih. Rambunya jelas dan transparan. Sebagai pemimpin tertinggi, ia selalu menjaga agar tidak ada kebocoran dalam hal keuangan perusahaan.

"Ini saya perhatikan betul mengingat pundi-pundi keuangan itu demi kemakmuran bersama," ujar Jakob yang memercayakan pengelolaan keuangan kepada pihak yang profesional dan ahli. Dikatakan August, dalam menjalankan bisnis, J.O sangat konservatif. "J.O. sangat berhati-hati mengeluarkan setiap sen uang perusahaan," paparnya.

Sebagai pelaku bisnis, ia berpikir bahwa dirinya juga memiliki tanggung jawab sosial dan berkontribusi penting pada kemajuan sosial bangsa. Ia setuju bahwa pelaku bisnis wajib diberi tanggung jawab sosial. Ia melihat pada iklim ekonomi pasar yang berlaku saat ini, pelaku bisnis harus diperlakukan secara proporsional karena kehadirannya diperlukan untuk menggerakkan roda ekonomi sektor riil. Dalam membangun SDM, hal mendasar ialah pemilihan karakter, yang diutamakan sejak awal perekrutan karyawan.

Fleksibel, luwes, berpikiran terbuka, dinamis, berani menerima kritik, asertif, jujur, peduli orang lain, bisa saling memberi dan menerima serta teratur --itulah kriteria SDM yang menjadi parameter KKG. "Karakter karyawan yang tidak malas, tepat waktu, jujur, tidak manipulatif itulah karakter yang saya sukai," ujar Jakob.

Untuk menciptakan SDM yang berintegritas, kompeten, dan accountable, J.O. berusaha menjalankan nilai-nilai yang disepakati bersama sehingga dirinya dapat menjadi sosok yang patut disegani dan dihormati oleh karyawannya. Sebagai pemimpin, ia mengaku berusaha untuk selalu sejujur dan selurus mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Baginya, hal ini patut dijalankan agar menjadi contoh yang baik bagi anak buahnya.

"Masa kita bicara A tetapi sikap kita B? Wah, nggak boleh begitu jadi pemimpin," ujarnya. Memberikan contoh yang akhirnya menjadi panutan, begitulah yang dilakukan Jakob. "Saya selalu berusaha memberikan contoh, dalam hal ketepatan waktu, misalnya," katanya.

Yanti, sekretarisnya, memuji J.O. sebagai sosok yang memiliki disiplin waktu tinggi. Ia pernah menanyakan pada Big Boss-nya mengapa selalu tepat waktu? "Nanti jadwal orang juga bisa berantakan hanya gara-gara menunggu saya," ujarnya mengutip jawaban Jakob. Bahkan, J.O. mengatakan ketepatan waktunya itu sebagai salah satu wujud penghargaan dirinya terhadap hasil kerja keras sekretarisnya yang sudah mengatur jadwal sedemikian rupa.

Tak ada gading yang tak retak, sebagai pemimpin, Jakob mengaku memiliki kekurangan. Ia menyadari kadang dirinya dilihat sebagai sosok yang sangat penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan sehingga terlihat lambat dalam mengambil keputusan di mata anak buah. August menjelaskan, kelemahan J.O. lebih pada cara dan bagaimana J.O. mengambil keputusan.
"Bagi orang yang berkarakter agresif, J.O. dianggap lamban. Semua hal dipikirkan masak-masak. J.O. itu paling tidak bisa diburu-buru dan didesak-desak dalam mengambil keputusan. J.O. sangat tidak menyukai pendesakan. J.O. akan melihat dari segala sisi ketika akan mengambil keputusan. J.O akan menanyakan berbagai macam pendapat dari banyak pihak," papar August.

August mencontohkan ketika J.O. mengambil langkah investasi di bisnis televisi. Sebelum lahir TV7, J.O. melemparkan ide ini kepada top management. Ia sharing argumen dan knowledge tentang rencana merambah bisnis tv. Tidak hanya dengan top management, J.O. jalan-jalan keliling perusahaannya dan menanyakan pendapat karyawan yang ditemuinya tentang idenya tersebut. "Jadi, realisasi ide itu ialah buah pikiran bersama. Nggak heran kalau ia lama mengambil keputusan," terang August.

J.O. sangat mengakui keterbatasan dirinya. Meski ujungnya ia yang tetap memegang dan mengetuk palu dalam memutuskan sesuatu. "Saya bukanlah orang yang bisa semua hal. Saya butuh orang untuk mendampingi saya menjalankan bisnis ini, termasuk konsultan, sebelum saya mengambil keputusan bisnis," tegas Jakob.

Sebagai pelaku bisnis, ia memercayakan dan mendelegasikan tugas kepada para profesionalnya. J.O terbuka terhadap saran dan pendapat para profesionalnya. Itu tak hanya di ruang rapat. Misalnya ada rencana bisnis tertentu, kepada karyawan yang ditemuinya ketika ia naik lift atau berpapasan dengannya tanpa memandang levelnya, J.O. selalu berusaha mengumpulkan pendapat.

"Inilah mengapa J.O dikenal dengan gaya management by walking arround. Ia tidak bersikap mentang-mentang sebagai presdir," jelas August.Tak hanya terbuka pada kritik. Jakob dikenal fleksibel dalam mengantisipasi perkembangan zaman, termasuk bisnis. "Strategi bisnisnya jauh ke depan," kata Vaksiandra. Dia punya pengalaman ketika Kompas membuat sisipan Muda yang menggandeng Hai dan Kawanku. Jakob menilai sisipan itu secara bisnis ke depannya akan menguntungkan karena punya daya jual tinggi.

Diakui Jakob, sistem di KKG akan terus-menerus dibangun dan disesuaikan dengan perkembangan zaman yang mengacu pada visi dan misi perusahaan. "Kalau bersikap kaku, waduh, bagaimana perusahaan ini berkembang. Generasi saya dengan generasi sekarang itu sangat jauh berbeda. Anak muda lebih dinamis, agresif, terbuka, dan asertif," katanya.

Anak muda pula memang yang dipilih Jakob menggantikan posisinya sebagai Pemred Kompas. Suryopratomo, kelahiran 1961, didapuknya menjadi orang nomor satu di jajaran redaksi Kompas. "Para redaktur senior sudah mendekati masa pensiun dan mereka juga telah mendapatkan pekerjaan lain yang tidak kalah beratnya dari tugas pemred," ungkap Jakob ketika ditanya mengapa bukan August Parengkuan atau Ninok Leksono yang tampil.

Alih generasi mulai dilakukan. Siapa calon penggantinya? Boleh jadi saat ini ia tengah mengelus-elus jagonya. Dan, bisa saja pilihan orang yang menggantikannya akan banyak mengejutkan. Seperti ketika ia memilih Suryapratomo. "Saya sangat berhati-hati dalam memilih pengganti saya. Yang jelas nota bene berasal dari dalam KKG sendiri," ucapnya.

Itu bukan berarti ia tak membuka diri bagi profesional di luar KKG. Untuk posisi tertentu di level supervisor dan manajer, KKG membuka diri untuk mencari pemimpin yang berasal dari profesional karier dari luar, bukan dari dalam. Langkah ini ditempuh untuk menjawab tuntutan dunia bisnis yang bergerak cepat dan dinamis.

Hal ini dilakukan agar KKG lebih dinamis, agresif, dan inovatif. Secara jujur ia mengakui bahwa para profesional dari luar KKG lebih asertif, dinamis, percaya diri, dan aktif mencari terobosan dalam pengembangan bisnis. Kelebihan itu dipadukan dengan kemampuan SDM KKG dari dalam yang lebih paham dan mengerti bagaimana dan siapa itu KKG. Ia telah memutuskan mem-blending-kan SDM profesional dari luar dan dalam.

Namun, untuk level direksi, ia masih menyiapkan dari orang dalam.Dalam mempersiapkan penggantinya, ia menganut paham lokomotif yang tetap menggandeng gerbongnya. Ia masih bisa menggandeng calon penggantinya sebelum ia benar-benar turun atau pensiun agar bisa mengawasi jalannya perusahaan dan bagaimana calon penggantinya itu memimpin.
"Pelan-pelan saya akan melepas gerbong itu," ujarnya.

Ia menegaskan dan menyarankan, ada cara yang mudah jika ingin menjadi pemimpin yang sukses di KKG. "Caranya gampang. Jangan lihat ke atas tetapi lihatlah ke bawah, samping kiri dan kanan supaya peduli pada apa yang terjadi di sekitar kita," ungkapnya. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa Kompas dan KKG akan menjadi besar seperti sekarang ini.

Bagi Jakob, keberhasilannya sebagai pemimpin sejatinya harus dilihat dari bagaimana kondisi perusahaan (KKG) setelah ia undur diri dari manajemen. Apakah KKG tetap jalan atau tidak? Jika KKG tetap berjalan dan berkembang, ia menganggap dirinya telah berhasil memimpin. Jika tidak, berarti ia telah gagal memimpin. Ia merasa sukses kalau berhasil mengantarkan penggantinya bisa tetap mempertahankan bisnis ini berjalan terus.

"Jika hancur, ia sering kali akan merasa berdosa karena menyangkut hidup karyawannya," ujar August mengutip perkataan Jakob Oetama yang kerap dikatakan kepadanya.

Di mata August, bisa saja seorang CEO diganti atau tergantikan. Tetapi, sosok pemimpin yang sangat kebapakan seperti Jakob Oetama jarang sekali ditemui. Jika terjadi alih generasi dari kepemimpinan J.O. kepada penerusnya, August berpendapat bahwa sesungguhnya KKG kehilangan sosok bapak selayaknya anak yang kehilangan ayahnya.

"Siapa pun penggantinya, sosok ayah yang ada di J.O. tidak dapat tergantikan. Kelebihan dan kelemahan J.O. bisa diterima dengan baik karena J.O. itu seorang ayah," kata August. Tanpa bermaksud mendahului Sang Khalik, August mengungkapkan saat ini karyawan sangat khawatir akan kondisi kesehatan J.O. mengingat usianya yang semakin tua.

Jakob Oetama lahir di Borobudur, 27 September 1931. Selepas menamatkan SMA Seminari di Yogyakarta, anak pensiunan guru di Sleman ini mengikuti jejak sang ayah, menjadi guru. Ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith Jakarta.

Di sela mengajar, ia menyisakan waktu menjadi redaktur mingguan Penabur. Selain mengantungi ijazah B1 Ilmu Sejarah, Jakob tercatat sebagai alumni Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta (1959) dan Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1961).
"Saya mencintai profesi guru," kata Jakob saat akan diabadikan kamera di depan meja kerjanya. "Mengapa kemudian memilih menjadi wartawan?" tanya SWA. "Saya tidak akan seperti ini kalau tetap menjadi guru," ungkap Jakob.

Bukan dalam konteks materi. Kompas tak hanya surat kabar yang saat ini bertiras lebih dari 500 ribu eksemplar. Ia menawarkan sejumlah soal dan menggelindingkan opini publik. Kontribusi pemikiran J.O. di Kompas masih dominan. Ia masih menjadi think thank Kompas. Pengaruh kuat Jakob terlihat dari pameo: Jakob Oetama adalah Kompas dan Kompas adalah Jakob Oetama.

"Pengidentikan itu wajar. Saya salah satu perintis kelahiran Kompas dan masih berkontribusi besar pada kemajuan Kompas dan KKG," kata Jakob.

Jakob sendiri lebih senang menyebut diri wartawan ketimbang pelaku bisnis. "Jabatan sebagai CEO sebagai co-incident," katanya. Ketika pertama kali usaha ini dirintis, J.O. lebih disiapkan sebagai pemimpin redaksi sementara P.K Ojong sebagai pemimpin perusahaan. Wafatnya P.K. Ojong pada 1980-an membuat ia harus segera mengambil alih tampuk kepemimpinan perusahaan.

Sebagai pengusaha, Jakob sukses mengerek KKG menjadi kerajaan bisnis pers terbesar di Indonesia. Memang tidak semua media di bawah KKG menghasilkan pundi-pundi uang berlimpah. Tulang punggung KKG di luar penerbitan buku ialah Kompas. Meski ia menolak disebut kapitalis, bisnisnya terus merambah berbagai lini. Penerbitan pers, jaringan toko buku Gramedia, hotel (Grahawita Santika), penyiaran radio (Radio Sonora), kertas tisu (PT Graha Kerindo). Total ada 42 anak perusahaan yang bernaung di bawah payung KKG. Total omset KKG pada 2001 saja diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1,05 triliun.

Keberhasilan KKG diakuinya juga berkat andil dan kerja keras seluruh karyawan. "Tuhan juga memberkati perusahaan ini," tegasnya. Sekarang ini, yang selalu menghantuinya justru bagaimana bisnis ini tetap berjalan setelah ia tidak ada. "Pertanyaan apakah bisnis ini tetap ada atau tidak setelah saya tidak ada, itu yang selalu ada di benak saya," katanya. Ia mengakui hal ini menjadi concern-nya mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Ia merasa sudah saatnya turun tahta. "Anak saya tidak ada yang tertarik terhadap bisnis media. Satu anak saya terjun mengurusi hotel," kata Jakob yang memiliki lima anak.

Jakob menanggalkan kartu pengenal di dadanya sesuai dengan permintaan fotografer. "Saya sering dibilang teman lupa asal," ujar Jakob sembari membagikan kartu namanya kepada tim SWA. Pukul 11.05, Yanti, sekretaris Jakob, melongok ke ruang kerja Jakob. "Bapak ada janji lain, harus pergi," katanya.

Kami beriringan menyusuri koridor dan memasuki lift. Jakob tersenyum kepada satpam yang memencetkan tombol lift. Di dalam lift, ia membuka notes kecil dari saku celananya. "Jam 12 siang di Grand Hyatt." Pintu lift terbuka di angka 3, seorang wanita muda masuk. "Siang Pak," sapanya. "Mau ke mana?? Jakob mendekati wanita muda yang rupanya wartawan Kompas. "Ke gereja? Ada acara apa?" tanya Jakob. Lift terbuka, wanita itu bergegas keluar, "Duluan, ya Pak." Jakob melangkah pelan, agak tertatih ke luar lift. "Dia ahli Amerika Latin," katanya. Kami menyesuaikan langkah kami supaya tetap seiring.

Di lobi, Jakob bersua dengan Julius Pour dan mantan Wakil Pemimpin Umum Kompas, A. Roesilah Kasiyanto. Jakob menjabat erat Roesilah dan saling bertukar berita. Tak lama itu. Di depan lobi, mobil pribadinya, BMW seri 5 warna hitam, telah menunggu yang akan membawanya ke Grand Hyatt bertemu Adam Schwartz, penulis buku Nation in Waiting.

Reportase: Tutut Handayani Riset: Vika Octavia
Sumber: http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=254

PELECEHAN SEKSUAL PRIA TERHADAP WANITA VERSI MAJALAH TIARA

(Tulisan yang sayang dilewatkan. Saya simpan sebagai kenang2an indah)

From: John MacDougall


To: apakabar@clark.net
From: "SYSTEM 0PERATOR"
Subject: IN: BW: Bak Buah Simalakama...
Date: Sat, 16 Dec 95 15:16:58 WIB
Organization: Kalyanamitra


BEJANA WANITA
Diterbitkan dalam rangka
Dialog Tentang Pelecehan Seksual - 21 Desember 1995
---------------------------------------------------


Bak Buah Simalakama...



Berikut petikan pembahasan dan penelitan seputar pelecehan seksual.

***


Tiga puluh mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta protes. Surat itu dikirimkan ke kepala klinik yang bekerja sama dengan perguruan tinggi tersebut. Kisah ini terbongkar setelah seorang mahasiswi, sambil menangis, menceritakan pengalamannya memeriksakan diri ke dokter, kepada seorang temannya. Ia bilang, tangan dokter itu memeriksa "wilayah-wilayah" yang tak seharusnya diperiksa. "Tapi, saya tak bisa berbuat apa-apa saat itu," keluhnya.

Kisah inilah yang kemudian membuka mulut mahasiswi lainnya. Mereka menggugat keberadaan dokter tersebut. Syukurlah protes itu sukses. Dokter cabul itu segera di-PHK.

Ternyata seorang profesional melakukan pelecehan seksual tidaklah aneh. Setidaknya begitu menurut hasil survei yang dilakukan majalah perilaku Tiara tentang Pelecehan Seksual di Lingkungan Ekesekutif. Survei yang diketuai psikolog klinis Dr. Sukiat dilakukan pada 127
eksekutif pria dan 66 eksekutif wanita -- berusia antara 25-65 tahun. Survei dilakukan selama dua bulan, di Jakarta. Mereka adalah para pengambil keputusan, manajer, kepala bagian, dan para profesional yang bekerja di perusahaan.

"Motivasi para eksekutif melakukan pelecehan seksual bukan pertanda hasrat seksual. Mereka melakukan itu sekadar untuk bercanda, menambah keakraban, menghilangkan ketegangan, dan rasa jenuh." Menurut hasil survei pelecehan seksual lebih sering dilakukan atasan kepada bawahan ketimbang sebaliknya. "Bisa jadi para eksekutif kita memang sangat menghargai atasannya," ungkap Sukiat.

Pelaku pelecehan seksual bisa jadi tak sadar pada apa yang dilakukannya. Mereka bisa saja menganggap bahwa siulan, pujian, pandangan gemas dan olok-olok berbau mesum merupakan hal lumrah. Maka dengan ringan, apalagi pada bawahan, seorang eksekutif melontarkan pujian tentang bibir bawahannya yang sensual. Sementara yang dipuji merasa "teganggu" dengan pujian itu. Ini terjadi, kata Sukiat, karena pelaku biasa bercanda dan iseng. "Canda dan iseng yang mungkin saja membudaya dalam masyarakatnya, " kata psikolog klinis yang kerap
menerima pengaduan pelecehan seksual dari kliennya ini.

Maka Sukiat mengingatkan agar hati-hati dalam bercanda. Canda bisa jadi malapetaka jika yang diajak bercanda tak mau menerima bahwa itu canda. Apalagi masyarakat sekarang kian deras menerima informasi. Informasi tentang apa pelecehan seksual dan bentuk-bentuk pelecehan
seksual bisa membuat orang kian kritis pada perlakuan atas dirinya.

Akibatnya sangat mungkin seorang wanita yang mendengar siulan ke arahnya tak lagi bersikap pura-pura tak mendengar seperti dulu. Bisa saja wanita itu melabrak bahwa menuntut penyiul yang mengganggunya.

Hanya saja lain masalah jika seorang bawahan menerima tindakan pelecehan seksual dari atasannya. Non, sebut saja begitu, mengaku suka menerima pelecehan seksual dari atasannya. Atasannya kerap merangkul bahunya. "Dia melakukan itu di depan orang lain. Meskipun dia bilang saya dianggap anaknya, tapi saya tak percaya. Menurut teman lain dia memang mata keranjang," kata wanita yang baru bekerja di sebuah penerbitan di Jakarta ini.

Toh, Non mengaku keder bagaimana harus bertindak. Ia pernah mencoba menurunkan lengan atasannya dari pundaknya. Tapi jemarinya justru diremas-remas oleh atasannya. "Untung ia jarang datang ke kantor. Karenanya saya tak begitu tertekan," akunya.

Perasaan tertekan ini, menurut Sukiat, bisa mengganggu kehidupan emosi dan prestasi kerja si korban. Bawahan yang menerima pelecehan seksual dari atasannya, sambung Sukiat, akan menghadapi buah simalakama. "Jika tak menerima perlakuan atasan mereka bisa kehilangan kesempatan promosi, kenaikan gaji, bahkan kehilangan kerja. Sedangkan jika menerima, keseimbangan jiwanya bisa terganggu."

Untuk menyelesaikannya Sukiat menyarankan agar korban bicara dengan si peleceh. Saran Sukiat, bicaralah sambil tersenyum sopan dan dengan kata yang menyentuh kalbu. "Hanya itu yang bisa saya sarankan dan selalu saya sarankan pada klien-klien saya," ungkapnya.

PELECEHAN SEKSUAL PRIA TERHADAP WANITA VERSI MAJALAH TIARA
----------------------------------------------------------------------

BEBERAPA TINDAKAN 0 1 2 3 4 5

1. Siulan nakal 23,4 34,9 16,1 10,4 9,9 5,2

2. Pernyataan yang mendesak 58,9 16,3 13,2 8,4 2,1 1,1
untuk kencan

3. Memandang dari ujung rambut 13,5 25,9 19,7 17,6 14,0 8,3
hingga kaki

4. Nyolek, nemplok, mencubit bagian 35,8 24,9 20,4 13,5 4,1 1,6
tubuh tertentu

5. Menyandarkan kepala ke bahu 64,4 15,2 14,1 3,1 3,1 0

6. Usaha/melakukan pemerkosaan 99,5 0 0 0,5 0 0

7. Dan lain-lain 86,5 6,7 2,2 2,2 2,2 0

Keterangan:
0 = tidak/belum pernah
1 = hanya beberapa kali saja
2 = agak jarang
3 = agak sering juga
4 = cukup sering
5 = sangat sering

TIARA: Majalah Psikologi Populer

(Komentar pembaca TIARA yang masih bisa saya temukan)

Perkenalan saya dengan majalah ini, ketika mengunjungi adik di Surabaya. Kebetulan saat itu dia sedang ambil kuliah di Fakultas Psikologi, di suatu Perguruan Tinggi Negri di Surabaya. Memang sejak awal dia menunjukkan minat yang besar dalam bidang sosial dan public relation, jadi 'klop' sudah, apa yang diinginkan dan jalur yang diambil.

Di kost-kostannya, saya melihat banyak menumpuk majalah ini, dari terbitan lama sampai yang agak baru. Iseng-iseng saya melihat-lihat dan membaca isinya. Sepintas lalu majalah ini, cukup baik penampilannya. Maksud saya disain covernya menarik dan sampul yang digunakan tebal dan warna yang ditampilkan terang dan jelas, sehingga tidak mudah sobek dan terlepas dari isi majalah.

Dari segi materi isi yang ditampilkan, keseluruhan mengenai dunia sosial dan psikologi. Barangkali anda sudah tahu, Psikologi merupakan cabang ilmu sosial yang memperajari interaksi antara satu individu dengan individu lainnya, maupun antara individu dengan lingkungan sosialnya. Kecenderungannya bisa positif maupun negatif, intinya mengupas perilaku sehari-hari. Banyak tips yang menarik disini, seputar pergaulan. Misalnya bagiamana menghadapi rekan kerja yang merepotkan, bos yang otoriter, ada juga rubrik konsultasi psikologi, setahu saya Psikolog Tika Bisono, pernah memberikan satu ulasan khusus disini.

Menurut saya majalah ini merupakan majalah psikologi populer. Dalam arti mudah dipahami oleh masyarakat luas, tidak disertai dengan argumentasi yang rumit dan kadang susah dicerna dari tokoh-tokoh perilaku sosial baik dari dalam maupun luar negri. Barangkali anda ingin tahu lebih lanjut, majalah ini cocok untuk wanita, tapi saya juga senang membacanya. Dari situ anda bisa meningkatkan komunikasi interpersonal anda dengan sesama maupun lingkungan sosial anda. Nah selamat membaca !



Produk ini disarankan untuk konsumen lain? ya
Nilai yang diberikan (Nilai Overall)

28 Desember 2007

Kopian Undangan TIARA tahun 1998

(Sebuah posting lama yang pernah dikirim redaksi TIARA untuk milis apakabar, pada tahun 1998, berisi undangan)

Subject: Undangan Internet Gathering
Date: Mon, 23 Feb 1998 11:51:10 -0700
From: tiara@vision.net.id (Majalah TIARA)
To: apakabar@clark.net



Majalah TIARA dan VISIONNET mengundang Anda pengguna internet untuk hadir
dalam INTERNET GATHERING: INTERNET BEGINNER yang akan dilaksanakan pada:

Waktu : Kamis, 26 Februari 1998, pukul 18.00
Tempat : Chicago for Ribs, Kemang Raya 45A, Jakarta Selatan
Pembicara : ONNO W PURBO


Undangan gratis dapat diperoleh di Majalah TIARA (Retno, telp.5330150,
5330170), dan VISIONNET (Yollis/Puri, telp.5227717).


Kami tunggu kehadiran Anda.

14 Desember 2007

Amplop-isme dan Moralitas Wartawan

(Sumber: http://isandri.blogspot.com/2007_08_26_archive.html)

Mengikuti rombongan wartawan yang tengah meliput sebuah acara secara beramai-ramai, biasanya kita akan melihat fenomena menarik yang khas Indonesia. Bila yang diliput adalah demonstrasi atau peristiwa politik yang terlihat adalah suasana pertemanan yang luar biasa kompaknya. Yang datang terlambat akan meminta informasi atau bahan dari yang datang duluan. Yang datang di lokasi lebih dulu umumnya juga dengan senang hati membagi informasi atau pers release yang didapatnya kepada sang kolega (dari media yang berbeda).

Namun, lain halnya bila yang diliput adalah sebuah konferensi pers atau undangan menghadiri product launching dari sebuah perusahaan yang memproduksi barang baru. Selesai mengikuti acara, biasanya para wartawan akan diminta panitia untuk mengisi absensi dengan cara membubuhkan tanda tangan. Acara ini kerap merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu wartawan, sebab setelah mengisi absen pihak panitia akan membagikan cinderamata beserta "amplop" berisi uang "ala kadarnya". Harap maklum, yang namanya ala kadarnya di sini berbeda-beda besarnya. Bisa sekadar pengganti uang transpor yang besarnya sekitar Rp 75.000 bisa juga uang "lelah" untuk imbalan jasa pemuatan yang berkisar antara Rp 250 ribu - Rp 400 ribu.

Menghadiri undangan instansi pemerintah, BUMN atau militer, lain lagi. Biasanya acara bagi-bagi amplop telah dikoordinir wartawan kepercayaan instansi yang bersangkutan. Tidak pernah diketahui, berapa besar uang yang diterima para koordinator itu. Yang jelas, sang koordinator membagi amplop secara seragam pada teman-temannya. Kemungkinan kelebihan amplop disimpan sendiri oleh sang koordinator. Meliput acara hiburan, seni, dunia selebritis dan artis tak jauh berbeda. Masing-masing telah punya koordinator sendiri.

Wartawan di Indonesia menganggap pemberian amplop adalah hal yang wajar. Apalagi wartawan senior yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI, Rosihan Anwar, malah menganjurkan agar para wartawan tak menolak pemberian amplop. Pada jaman PWI di bawah kepemimpinan Sofyan Lubis, sang ketua juga menganjurkan hal serupa. "Sejauh hal itu tak ada paksaan dari si wartawan atau sumber berita," ujar Sofyan Lubis mencoba berkilah bahwa hal itu tidak bertentangan dengan kode etik dan moralitas seorang wartawan.

Sikap pragmatisme para tokoh PWI yang nota bene adalah pimpinan di sejumlah media bukan tanpa alasan. Umumnya mereka melihat gaji wartawan yang telalu rendah sebagai dasar legitimasi kebijakan yang mereka berikan. "Mau apa lagi, perusahaan belum mampu menggaji wartawannya secara layak. Jadi silakan cari tambahan di luar, asalkan halal," begitu ucap sejumlah pimpinan media.

Apakah memang demikian halnya? Ternyata sejumlah penerbitan besar terkemuka lebih memilih melarang wartawannya untuk menerima amplop, karena bisa mengganggu integritas wartawan sekaligus kredibilitas lembaga. Para wartawan yang baru masuk diajari teknik menolak amplop. Mulai dari sikap terima dulu untuk kemudian dikembalikan lewat sekretaris, hingga teknik menghindari absensi. Sejumlah pimpinan media malah menerapkan kebijakan keras berupa tindakan langsung mengeluarkan wartawannya yang ketahuan menerima amplop.

Namun, yang jadi pertanyaan apakah kebijakan keras itu disertai dengan sistem penggajian yang memadai bagi para wartawannya? Jawabannya : tidak. Contoh yang terkemuka adalah para wartawan di lingkungan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang menerapkan ketentuan melarang amplop pada karyawannya ternyata tak digaji cukup layak. Gaji pokok seorang wartawan baru di Gramedia Majalah sekarang "cuma" sekitar Rp 400 ribu - Rp 650 ribu (tulisan ini dibuat pada 1 April 2000, red). Wartawan tabloid semacam Citra di lingkungan Gramedia Majalah bergaji paling rendah. Yang tertinggi adalah majalah Intisari dan Bobo yang dianggap telah mapan dan menguntungkan. Di kelompok penerbitan majalah, gaji wartawan Gramedia ini masih berada jauh di bawah rata-rata gaji karyawan Tempo, Forum, Gatra maupun Gamma.

Rendahnya (under-paid -red.) gaji wartawan memang sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Hasil survei Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dilakukan di Jakarta pada Mei-Juni 1999 lalu menyatakan dari 250 wartawan responden tercatat 5% bergaji di bawah Rp 250 ribu, 35% bergaji antara Rp 500-1 juta , 30% bergaji antara Rp 1-2 juta dan 8% bergaji di atas Rp 2 juta. Sayang, hasil survei AJI tak membedakan antara jabatan reporter dan redaktur.

Menurut hasil survei majalah Asiaweek Edisi 29 November 1996 yang memetakan gaji tertinggi kelompok profesional di kawasan Asia-Australia memperjelas rendahnya gaji wartawan. Menurut hasil survei gaji tertinggi reporter di Indonesia berada di urutan no 4 paling rendah setelah Cina, Vietnam dan India. Sedangkan gaji redaktur tertinggi di Indonesia menempati urutan ke 5 terendah setelah Cina, Vietnam, Filipina dan India. Negara di kawasan Asia-Australia yang paling mensejahterakan wartawannya tercatat adalah Jepang, disusul Australia, Hongkong, Korea Selatan dan Thailand.

Sejumlah media malah tak memberi gaji wartawannya. Kepada para wartawan yang baru direkurut, si pemilik media menyatakan bahwa pihaknya hanya bisa memberi kartu pers. Si wartawan dipersilakan untuk mencari uang dan kehidupan yang layak sendiri. Si wartawan diperlakukan seperti halnya anak ayam yang dilepas induknya untuk cari makan sendiri. Kondisi seperti ini paling banyak dipraktekkan para pemilik media di luar Jawa.

Kehidupan wartawan di Indonesia betul-betul tragis. Para wartawan media berpenampilan glossy ala Tiara dan Jakarta-Jakarta (keduanya telah ditutup oleh direksi Gramedia Majalah) setiap hari adalah meliput meliput orang kaya beserta gaya hidupnya yang serba "wah". Si wartawan hanya bisa gigit jari saat dipameri koleksi ratusan arloji narasumber yang mencapai nilai ratusan juta. Apa yang dilihat dan dijalani si wartawan bagai bumi dan langit. Ketika diajak makan siang narasumber si wartawan naik Baby Benz, namun ketika selesai wawancara ia harus naik bajaj untuk balik menuju ke kantor. Dasinya cuma dipakai saat pergi wawancara ke hotel, ketika kembali kekantor dasi yang sama yang cuma satu-satunya terpaksa harus dilepas karena takut kotor.

Gaji wartawan Indonesia memang memperihatinkan, kecuali media baru semacam Astaga!Com. Tak heran bila ada banyak wartawan yang kemudian terkondisikan untuk selalu "mencari" amplop guna menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Beberapa waktu lalu terbongkar ada seorang wartawan gadungan yang telah berhasil menipu sejumlah gubernur dan pejabat daerah. Termasuk Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Si wartawan dengan alasan akan melakukan kunjungan ke daerah guna membuat liputan lantas menyodorkan surat rekomendasi dari DPR pada sang pejabat yang ditemuinya. Si pajabat yang tampaknya berkepentingan agar ditulis beritanya dengan "baik-baik" lantas menyodorkan uang bernilai ratusan ribu.

Untuk menghindari kebutuhan menerima amplop, ada banyak wartawan mengambil pekerjaan sambilan. Kita juga bisa melihat ada sejumlah wartawan yang memposisikan diri sebagai jurubicara atau ghost-writer seorang pejabat. Ada juga yang jadi think-tanker seorang tokoh yang ingin muncul sebagai budayawan. Ada yang mencoba jadi penulis atau editor buku. Ada yang mencoba mengerjakan inhouse magazine. Ada yang mencoba merangkap jadi sales di bidang multi level marketing. Ada juga yang buka usaha baru dengan jadi penggalang tenaga pamswakarsa. Ada yang merangkap pekerjaan sebagai pemberi informasi pada aparat intelijen. Ada juga yang terang-terangan jadi mucikari untuk artis-artis figuran yang pernah diwawancarainya.

Fenomena amplopisme di kalangan wartawan kini telah berada dalam taraf yang betul-betul memprihatinkan. Terutama sejak masa krisis ekonomi yang dimulai pada Agustus 1997, kebanyakan para pemilik media memilih tak menaikkan gaji wartawannya tapi cuma mengkompensasinya dengan "tunjangan kemahalan".

Selain istilah amplop, di kalangan wartawan juga dikenal istilah "wartawan Bodrex", nama obat sakit kepala produksi PT Bayer Indonesia. Wartawan dari kalangan ini setiap tengah bulan selalu "sakit kepala" akibat harus memikirkan kebutuhan diri dan keluarga yang tak tercukupi. Para wartawan ini kemudian mencari-cari kesalahan orang yang bisa diperas dengan cara menuliskannya sebagai berita dan kemudian mendatangi si tokoh. Kepada sang tokoh si wartawan menyodorkan berita yang dibuatnya dan menawarkan apakah si tokoh berkeberatan dengan tulisan tersebut. Bila berkeberatan si tokoh bisa mengambil "konsep" berita tersebut asal membayar dengan jumlah tertentu sesuai kesepakatan.
Cara kerja lainnya adalah dengan mendatangi pengusaha dengan menunjukkan kartu pers dan menyatakan ingin wawancara. Para pengusaha yang umumnya telah hafal dengan langgam semacam ini biasanya akan langsung menyodorkan segepok uang sambil mempersilakan si wartawan untuk pergi.

Sejak 6 tahun terakhir sejumlah wartawan yang medianya menerapkan kebijakan melarang menerima amplop memilih jalan lain yang lebih canggih, halus dan tak mencolok mata. Mereka memberikan nomor rekening bank pada sang narasumber, hingga uang bisa langsung di transfer ke rekening bank wartawan bersangkutan. Demikian juga parsel yang di sejumlah media diputuskan untuk dibagi rata seluruh karyawan, oleh wartawan kalangan ini dianjurkan untuk langsung di antar ke rumah, bukan ke tempat kerja. Luar biasa.

Fenomena amplopisme hampir merata di kalangan wartawan. Termasuk di kalangan media terkemuka di Jakarta. Kalau pun ada media yang malu-malu menolak amplop, mereka tak malu menerima tiket pesawat, fasilitas penginapan di hotel, liburan di spa, jamuan makan, tiket nonton, bahkan voucher main golf. Artinya, yang kecil ditolak tapi yang lebih besar dan lebih nikmat diterima dengan tangan terbuka.

Di Indonesia , amplopisme tak bisa dilepaskan dari semata-mata masalah kemiskinan dan kepelitan pemilik media, tapi juga karena ketidakberdayaan wartawan dalam menuntut hak-haknya. Kebanyakan pemilik media hanya memproduksi sejumlah aturan, namun tak pernah memperhatikan sisi kesejahteraan karyawannya. Sejumlah media terkemuka yang dikenal sebagai pembela demokrasi, yang tiap hari melaporkan soal nasib buruh dan TKW, ternyata justru melarang "gerakan buruh" yang dilakukan wartawannya sendiri. Wartawan yang coba-coba terus melawan keputusan pelarangan "gerakan buruh", biasanya akan dikucilkan atau dimutasi.

Masalah amplop adalah masalah pelik yang juga terkait dengan fenomena para "penjahat" dan para "oknum" yang mempunyai jabatan dan usaha penting. Mereka ini punya kepentingan dengan adanya publikasi positif tentang dirinya. Untuk itu mereka melakukan gerakan amplopisme sebagai upaya sogokan. Yang terjadi kemudian adalah sebuah simbiosis mutualistis, di mana si wartawan dapat uang dan si tokoh dapat nama baik.

Sejumlah kalangan lebih melihat moralitas sebagai salah satu penyebab menjamurnya budaya amplop. Menurut mereka nilai-nilai moralitas bangsa ini memang tengah merosot drastis. Hal ini antara lain bisa dilihat bagaimana para wartawan yang menghadiri undangan seminar sehari biasanya datang menjelang waktu makan siang dan segera pergi setelah menikmati makan siang gratis. Artinya, peristiwa politik dan perjumpaan dengan narasumber, di mata kebanyakan wartawan, tak lebih adalah peristiwa ekonomi biasa, yaitu sekadar cari bahan dan formalitas wawancara serta bisa makan gratis.

Masalah moral dan amplop memang pelik dan khas Indonesia. Seorang mahasiswa doktoral di bidang komunikasi asal Australia pernah bertanya pada saya, "Saya tak habis mengerti kenapa bisa ada wartawan menerima uang dari orang yang diwawancarainya? Bukankah itu suap? Bukankah itu kejahatan?" Terus terang, saya tak mampu menjawabnya. Sebab masalah suap-menyuap dan kejahatan di bidang pers sepenuhnya bukan monopoli wartawan, para pemilik modal yang menguasai media juga melakukan hal serupa. Barangkali karena itulah kita perlu sama-sama perlu mengadili diri sendiri. ***

*) Stanley adalah seorang teman, juga seorang wartawan yang baik dan secara intens berkampanye menentang amplopisme dalam profesi ini.

11 Desember 2007

Kenapa Gramedia Majalah Undercover?


Banyak teman2 di Gramedia Majalah kirim SMS saya. Tumben2an. Ada yang protes, ada yang marah, ada yang malah ngompori, ada yang cekakakan, ada yang cekikikan. Awalnya saya tidak tahu juntrungannya. Lama-lama sadar, mereka sudah membaca blog ini.

Rupanya judul blog: GRAMEDIA MAJALAH UNDERCOVER telah membuat pirsawan, punya asosiasi ke mana-mana. Maklum, sebelumnya ada novel dan film berjudul, "JAKARTA UNDERGROUND", terus ada buku laris karangan Dr. Inu, dosen IPDN, "IPDN UNDERCOVER". Bahwa judul itu diharapkan seru, tentu saja, iya. Tapi, bahwa saya berpretensi jadi Dr. Inu, tentu tidak. Apalah saya. Dr.Inu punya penyakit gula, saya tidak. Dr. Inu nekad, saya orangnya hati2. Mau terkenal? Tidak juga. Nama saya masih dikenal baik di kalangan sastrawan2 Indonesia yang tahu dulu saya suka nulis cerpen, dan puisi di majalah serius maupun majalah tidak serius. Di dunia pers saya sudah menghasilkan sedikitnya 3 buku: ENSIKLOPEDI PERS INDONESIA (Gramedia pustaka Utama, 19990), MENGGEBRAK DUNIA WARTAWAN INDONESIA (Puspa Swara, 1993), dan RAHASIA DAPUR MAJALAH INDONESIA (Gramedia Pustaka Utama, 1995). Di dunia yang saya geluti sekarang, saya sudah menerbitkan sedikitnya 5 buku tentang tanaman hias, antara lain: PEDOMAN MERAWAT AGLAONEMA, PESONA ANTHURIUM DAUN, JURUS SUKSES BERBISNIS TANAMAN HIAS dan JADI MILYARDER DARI ANTHURIUM, semuanya terbitan PT Agro Media Pustaka. Dengan portofolio yang saya punya, saya masih dipercaya jadi anggota dewan juri Yayasan Buku Utama selama bertahun2. Hehehehe.... Mau cari sensasi? Boro-boro. Saya sudah tua, giginya tinggal dua, impiannya cuma suarga. Sekadar contoh, kalau mau tahu tentang saya, klik saja di Google.

Mungkin saya frustrasi? Jangan memfitnah. Saya orangnya suka cengengesan. Frustrasi waktu kerja di Gramedia? Ah mosok? Seingat saya, karier saya bagus selama hampir 15 tahun bekerja di sana. Dua tahun jadi Redpel dan Wapemred Jakarta-Jakarta, kemudian 10 tahun dipercaya jadi Pemred TIARA, dan setahun dipercaya mengurus Kompas Online bersama Mas Ninok Laksono.

Saya mundur dari Gramedia Majalah juga bukan karena dipecat. Lagi enak-enak ngobrol dan ngopi, saya langsung menjabat tangan Widi Krastawan, pamitan. (Tentu saja sebelumnya saya sudah main mata dengan pihak Kompas, bahwa tenaga saya diharapkan banget). Kepada Widi saya bilang, mulai besok saya tidak datang lagi ke Jalan Panjang, tapi mau mau ngantor di Palmerah. Pak Widi, atasan saya yang budiman itu, melongo. Sebelum dia bertanya, saya sudah kabur dan melambaikan tangan. Itulah cara saya mengundurkan diri. (Ah, belakangan saya menyesal, kali2 Mas Widi menganggap saya tidak sopan.)

Saya mungkin satu2nya orang yang keluar dari Gramedia Majalah yang tidak pernah direpotkan oleh urusan administrasi. Umpamanya, saya tidak pernah diminta mengajukan surat pengunduran diri atau harus bertemu dengan para pejabat di PSDM Majalah. Pokoknya, otomatis saya sudah berstatus Kompas (Asal Anda tahu, untuk level yang sama, gaji di Kompas tingkatnya lebih tinggi dibanding di Majalah).

Di Kompas, saya diterima dengan baik oleh Mas Ninok Laksono,Mas Robby Sugiantoro, Mas Andrey Handoko, dan Mas Tommy (Pemimpin Redaksi). Saya dibuatkan newsroom, ditanya apa kebutuhannya, dan suka diajak rapat2. Di Kompas, saya sendiri bersikap pandai2 membawa diri, tidak mentang2 bekas pimpinan. Syukurnya, teman2 di Kompas, pandai juga menempatkan saya pada tempat yang pas. Sering mengajak saya ngobrol Rudy Badil, Liem Bun Cay, Maria Hartiningsih, FX Mulyadi, Dono, Rene dll.

Waktu kemudian saya mau keluar dari perusahaan Kompas/ Gramedia, saya menghadap Mas RB Sugiantoro. Ternyata itu pun tidak gampang, saya diminta berpikir ulang sampai 3 bulan, ditawari gaji naik, dan posisi lebih bagus. Saya tidak bergeming. Iman saya cukup kuat. Saya cuma terkenang pada Teori Maslow.

Ada wartawan senior Kompas mengingatkan bahwa anak saya masih kecil2 sehingga tak perlu keluar, tapi saya langsung potong: Justru anak saya masih kecil2, maka saya keluar. Wartawan senior lain, menyarankan saya tidak usah keluar. "Kalau sudah malas kerja, masuk kantor saja cukup. Tapi Anda jangan keluar," katanya. Dia lalu menunjuk Si A, yang rajin masuk kantor tiap pagi, tapi langsung kabur, si B, yang masuk kantor setiap hari, langsung ngetik, tapi tidak pernah ada tulisannya yang dimuat di Kompas, si C yang masuk kantor cuma tanggal 25, saat ambil gaji. "Pokoknya jangan keluar. Tiru saja tipe mana yang Anda inginkan."

Tapi saya tetap emoh. Dalam hati, kalau bisa, saya malah mau membayar, asal saya boleh keluar. Nyatanya saya dapat uang. Utang2 saya pada perusahaan dilunasi. Karena menurut perusahaan, saya punya jasa pada perusahaan. Alhamdulillah.

Setelah tidak lagi jadi orang kantoran, ternyata saya masih pula banyak dilamar perusahaan penerbitan besar. Saya cuma tertawa, "Ah, sampeyan gimana sih. Kalau saya mau bekerja, mah saya gak perlu keluar dari Gramedia," begitu kata saya. Ada juga yang menawari posisi bos. Saya geli sampai sakit perut. "Gaji berapa pun tidak membuat saya ngiler, Mas. Bagi saya yang penting, saya bisa merdeka." Itu jawab saya, seakan-akan anak konglomerat saja.

Tak terasa sudah hampir 7 tahun saya mundur dari Kompas, dan 8 tahun saya mundur dari Gramedia Majalah, tapi justru sekarang saya merasa banyak hal penting yang harus disimak, dan dikaji.

Tempat saya mencari nafkah sekarang, yaitu sebuah kebun di BSD, bersifat terbuka. Siapa saja boleh datang dan pergi. Beli tidak beli, tetap tengkyu, begitu kata pabrik kaos Jogger, Bali. Di antara yang datang, adalah teman2 dan kolega2 saya di Gramedia Majalah dan Kompas, ada juga teman2 dari The Jakarta Post. Sering kami ngobrol sembari ngopi. Awalnya tentu saja membahas tanaman, tahu-tahu ngobrol tentang kerjaan, dan kemudian merembet ke suasana perusahaan, ngrasani para bos, nggosipin kebijakan perusahaan dlsb. Terus terang dari sini saya jadi merasa keep in touch terus dengan almamater saya, tanpa saya minta, meski kalau mau jujur saya sudah ingin membuang kenangan jadi employee. Dari sini pula, timbul ide membuat blog ini. Kalau pegawai pabrik las, keluar bermimpi jadi tukang las, dan karyawan pabrik kaos kalau keluar pengen punya pabrik kaos sendiri, maka saya keluar dari perusahaan majalah, tidak pengenan bikin majalah. Bisa bikin blog, syukurlah. Apalagi, sebuah blog yang dibaca oleh Anda-Anda, yang dengan sukacita mau membuang waktu membacanya, meski dengan hati was2 karena takut namanya kesenggol. Rasain deh.

Jadi, wahai pembaca, blog ini pada dasarnya sebuah homage (penghormatan) bagi almamater saya, Gramedia Majalah, tempat "kudibesarkan". Kenapa disebut UNDERCOVER? Jelas saja, karena tulisan-tulisan di sini bersifat tidak resmi, dan sekadar catatan belaka yang ditulis di bawah meja. Bahwa di sana-sini ada kritik, jangan berhati tipis. Bersikaplah, positive thingking. Cuma kalau Anda membayangkan (atau mengharapkan) di sini akan ada tulisan2 yang membongkar skandal atau kebobrokan perusahaan, semacam Gramedia Majalah-Gate, lihat saja nanti perkembangannya. Saya enggak janji.

Merdeka! Sekali merdeka tetap merdeka.

06 Desember 2007

Majalah TIARA dibunuh atau KJ disingkirkan?

Juli 1999, suasana manajemen Gramedia Majalah sesungguhnya lagi gerah. Beberapa majalah dinyatakan ngos2an, kerena konon oplagnya di bawah target. Dalam rapat2 rutin tiga bulanan di ruang rapat Dirkel di Jalan Palemarah, sudah sering pihak distribusi melaporkan adanya kemerosotan tiras. "Kami sudah mencoba berbagai jurus, tapi tidak mengangkat juga," kata Harry Sunarko, bos distribusi.

Kemerosotan tiras sesungguhnya bisa digantikan dengan pemasukan iklan. Dalam hitungan saya, waktu itu, untuk penambahan tiras 5.000 eksemplar, hampir sama nilai rupiahnya dengan iklan satu halanan full color. Tapi bagian iklan celakanya juga melaporkan bahwa biro iklan atau pengiklan yang berminat pasang iklan di TIARA di bawah target. "Kami angkat tangan," kata Tommy Anwar, kepala bagian iklan. Itu maksudnya, dia dan timnya sudah bekerja keras tapi tetap sia-sia. Jadi, siapa yang salah? Merasa tersindir, pihak promosi langsung membantah, bahwa kesalahan bukan dari pihaknya. "Kami sudah melakukan semua yang bisa kami lakukan," kata Benny Sumantri sambil membeberkan data-data pengeluaran pemasangan iklan dan kerjasama dengan media massa di sejumlah kota dan lain-lain. Jadi siapa yang salah?

Seperti biasa, elit manajemen tidak mau ambil pusing, mencari kambing hitam. "Kalau memang tidak naik oplagnya, ya bubarin saja," kata Evie Fajari, orang nomor satu di sana dengan enteng. Widi Krastawan dan Adrian Herlambang, waki2l Evie, dengan image seperti sudah lama dikenal di benak karyawan gramedia majalah --yaitu tidak mau berdebat dengan bos-- lantas mengamini. Hasilnya sebuah skenario pahit: Majalah Jakarta-Jakarta yang waktu itu dipimpin sastrawan Seno Gumira Ajidarma harus segera dilikuidasi. Sesudah itu, majalah TIARA yang saya pimpin rencananyanya akan dibubarkan. Widi ditugasi menghubungi Sigit Suryanto, Kepala PSDM (Akoronim itu seringdiplesetkan karyawan menjadi Pembusukan/ Pembinasaan Sumber Daya Manusia), untuk merealisasikan niat 'jahat' itu.

Meski bersifat rahasia, skenario yang dibuat di dalam bilik kedap suara di lantai 5 kantor Manajemen Gramedia Majalah berkantor, segera merebak. Saya mendengar dengan seksama dan tidak terlalu kaget dengan jalan pikiran seperti itu. Sudah lama, ancaman2 serupa dilontarkan kepada beberapa majalah di sana. Para pemred (pemimpin redaksi) sudah hapal gertak sambal itu. Dan sejauh itu memang tidak pernah menjadi kenyataan. Ada yang bilang, Pak Jakob Oetama tak pernah merestui rencana pembubaran, yang berarti akan membuat banyak karyawan di PHK. Orang tua itu, memang sudah lama dikenal sangat bijak dan berpikir visioner. Berkali-kali, JO --begitu ia biasa disebut secara bisik-bisik di kalangan karyawan-- mengatakan bahwa misi gramedia, termasuk kompas, tak hanya mencari laba semata, tetapi juga membantu program pemerintah dalam mengatasi angka pengangguran. Jadi, saya kira, manajamen majalah memang ketanggor JO.

Di hari-hari itu pula, saya dipanggil Wadirkel Majalah Widi di ruangan PSDM di Jalan Palmerah. Harap maklum, pada saat itu, kantor manajemen majalah dipusatkan di Jalan Palmerah Selatan, sehingga praktis di Jalan Panjang hanya berisi kantor-kantor redaksi. Di situ ada Sigit, sang pemilik ruangan. Tanpa banyak basa-basi Widi langsung mengingatkan saya akan pertemuan saya beberapa minggu sebelumnya.

Pertemuan apa? Baru saya ingat. Sekitar beberapa minggu sebelum itu, kami memang bertemu. Saya waktu itu menyampaikan keinginan saya untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Pemimpin Redaksi Majalah TIARA. Saya beralasan, saya lagi tertarik untuk membangun media online, setelah melihat kenyataan TIARA Online ternyata punya pembaca banyak. "Sayang sekali kalau tidak dipelihara,"begitu argumen saya.

Widi nampak kaget, lalu menanyakan, kalau saya keluar, siapa yang akan menggantikan saya nantinya? Saya jawab: Ada Dharnoto, Redpel saya, dan Widya Sarawsati Waredpel saya. Di bawah mereka juga ada Victor Manahara, Harry Barus, Julie Erikania dll. "Tidak masalah. Mereka cukup kapabel," kata saya meyakinkan.

"Wah, saya kira, (penggantian semacam, penulis) itu tidak gampang. Ini masalah uang milyaran. Manajemen tidak begitu saja percaya pada sembarang orang," kata Widi. Seingat saya, Sigit, yang hadir pada waku itu ikut mempertegas ucapan Widi, bahwa untuk menjalankan unit usaha, perusahaan harus mempercayai orang tersebut.

Kesimpulannya permintaan saya untuk mundur ditolak dan tetap mengelola TIARA. Jadi, punah sudah rencana saya untuk mengelola sebuah media online, yang saat itu saya pikir belum banyak dipikirkan orang

Pertemuan itu saya ingat. Saya tergagap.

"Jadi permintaan saya untuk mundur dikabulkan?" tanya saya.

Widi cengengesan. "Kon ngerti ae," katanya. Kamu ngerti aja, maksudnya. Wah hati saya senang bukan kepalang. "Nanti kon boleh kelola, karena kita mau bikin Media Online"
Tapi?

"Karena itu TIARA mau dibubarin," kata Widi lugas.

Jengah saya. Sungguh mampus, saya tidak ngerti sama sekali kaitannya antara permintaan saya mundur untuk mengelola media online dengan pembubaran TIARA.

"Mosok kon ora paham," kata Widi dengan bahasa Jawa. Masak kamu gak paham, maksudnya. "Oplag TIARA kan payah, kebetulan kon mengundurkan diri. Ya, kebetulan."

Saya mencoba membela diri karena menurut hemat saya, kondisi TIARA pada waktu itu masih mending, masih bisa ditoleransi, dibanding dengan kondisi majalah JJ.

Sigit menukas, maksudnya mungkin untuk menghibur saya bahwa nasib saya dan TIARA tidak sendirian. "JJ juga nantinya dibubarkan, kok."

Saya langsung naik pitam. "Wah, ini tidak adil. Kenapa bisa begini?"

"La kon juga wis ora gelem ngurus TIARA, buat apa diperpanjang?" kata Widi.
"Oke gitu aja ya," Widi mengakhiri pembicaraan. "Sekarang tinggal atur waktu, kapan saya dan Evie ketemu anak-anak (karyawan TIARA, maksudnya)."

Saya ngelokro. Badan saya lemes. Sudah jelas, manajemen telah mengambil momentum ini untuk menghabisi TIARA.

Yang menyesakkan hati, pembicaraan saya dan Widi plus Ketua PSDM lalu itu rupanya sudah beredar luas (sengaja diembuskan?) di kalangan karyawan.

Akibatnya berbagai gosip meruyak. Agak aneh, gosip itu seakan-akan menuding bahwa sayalah yang membubarkan TIARA. Saya tidak tau persis.

Hari itu untuk pertamakalinya saya melihat TIARA menjadi sebuah neraka. Saya masih ingat kata-kata Stanley, wartawan Jakarta-Jakarta lewat email yang menyemangati saya agar melawan manajemen majalah bila pemberangusan tiba. (Setahun kemudian, ketika Majalah Jakarta-Jakarta akhirnya diberangus juga --ada debat sengit dengan Widi Krastawan, yang mewakili manajemen KKG Majalah-- tokoh ini bersama kawan-kawannya menerbitkan buletin "Suara Serikat" sebagai media perlawanan). Tapi hari itu, semangat saya yang berkobar itu mendadak sirna.

Sungguh. Hari itu saya tidak melihat lagi persahabatan dan ketulusan di majalah yang saya dirikan dan terbitkan hampir 10 tahun lalu itu. Saya juga tidak melihat lagi wajah penuh damai wartawan-wartawan TIARA yang saya rekrut, saya latih, dan saya pupuk agar menjadi wartawan yang andal.

Alih2 bersikap kompak, kini saya melihat karyawan mulai mencari selamat sendiri2. Victor dan Harry Barus cs mulai kasak-kusuk. Dengan nada tidak bersahabat, Victor malah terang2an meminta saya, agar kalau memang saya sudah tidak sanggup mengelola TIARA supaya saya menyerahkan saja tampuk kekuasaan pada mereka. Sementara itu, konon ada ketakutan bahwa Widya Saraswati, yang selama ini disebut-sebut sebagai 'anak kesayangan' saya tapi sekaligus tidak disukai karyawan akan menggantikan saya sehingga mereka mendaulat Dharnoto untuk menjadi juru selamat. Gilanya, sebagai Redaktur Pelaksana, Dharnoto dengan gaya khasnya mencoba menenangkan karyawan dengan mengatakan akan mengambilalih TIARA. Apakah Not tidak sadar bahwa langkahnya itu semakin membuat kegelisahan makin merajam?

Begitulah. Kini karyawan-karyawan TIARA yang saya banggakan pada berebutan mencari posisi, dan mencari jalan selamat sendiri-sendiri.

Adalah di hari-hari itu, Evie, Widi, Sigit dan lopan (tauke besar dalam bahasa Cina) Adrian datang ke kantor TIARA di Jl. Panjang, Lantai 2, mengumumkan pembubaran itu. Seingat saya, Victor cs sempat mengajukan berbagai solusi, seperti kesanggupan menangani TIARA dlsb. Selebihnya saya tak ingat lagi. Saya hanya diam 1000 basa bahkan ketika Evie menutup rapat dengan senyum kemenangan.

Yang saya ingat saat meninggalkan kantor, Widi menepuk pundah saya. "Ojo kondo-kondo karo Jakob," katanya berbisik.

Permintaan agar saya jangan melapor pak Jakob paling tidak menyindikasikan bahwa rencana pembubaran itu memang datang dari pihak manajemen bukan dari Pak Jakob. Bahkan saya yakin, Pak Jakob tidak tahu sama sekali rencana itu.

Melapor Jakob? Ada niatan itu sedikit agar masukan ke beliau tidak hanya dari satu sisi. Tapi niat itu segera saya tampik. Bukan untuk menuruti permintaan Widi atau Evie, tapi lebih karena hati sudah kecewa. Biarlah segalanya terjadi, kata hati saya.

Manajemen Gramedia Majalah tentu saja bersorak, TIARA tak hanya dibubarkan, tetapi KJ juga tersingkirkan dengan cara devide et impera, sehingga praktis tanpa perlawanan sama sekali.

Mmmm..... ada satu kisah yang saya masih ingat. Tak lama setelah rapat pembubaran itu, di malam hari, Sigit tiba-tiba menelepon saya agar saya menandatangani sejumlah surat mutasi karyawan. "Mas Jun harus datang saat ini juga," katanya. Jam sembilan atau jam sepuluh waktu itu. Karena tak ada alasan menolak, lagipula saya tetap ingin kooperatif, saya penuhi, dengan catatan, saya akan memeriksa agar pemindahan masing-masing karyawan itu sesuai keinginan masing-masing karyawan. Sigit menyanggupi. Dan surat itu saya teken.

Seminggu kemudian, saya baru tahu, karyawan-karyawan itu ternyata tidak ditempatkan sebagaimana yang saya harapkan. Merasa dikibuli saya telepon Sigit. Apa jawab beliau? "Apa boleh buat, Mas Jun sekarang kan sudah tidak punya hak dan wewenang lagi."

Mendengar jawaban itu, saya berdoa agar tidak perlu lagi melihat Kepala Pembinasaan Sumber Daya Manusia itu lagi. Saya hanya berdoa agar kariernya terus berlanjutan. Paling2 saya ucapkan kepadanya, "Sampai ketemu di puncak karier," persis seperti bunyi salah satu stiker majalah TIARA yang saya buat dulu.

Kisah di atas adalah 100 % kisah nyata. Bila yang bersangkutan tergerak ikut membaca kisah ini dan mungkin dengan berapi-api membantahnya, saya bisa maklum. Sudah pasti ingatan mereka pasti akan tumpul, karena sehari-hari telahn mengurus perusahaan yang besar itu. Tapi itu soal lain. Saya hanya ingin berbagi cerita belaka.