Belum lama ini saya banyak diminta saran, pendapat atau nasehat oleh beberapa teman wartawan yang akan menjadi anggota Komunitas Pendi. (Pendi-=Pensiun Dini). Sebagai anggota Komunitas Pendi senior, tentu saja saya banyak menasehati mereka.
Intinya, saya mengakui bahwa sebagai wartawan yang bekerja di penerbitan pers, kita memang disegani dan punya relasi yang sangat luas. Dulu, misalnya, saya kenal mulai dari artis sinetron, presenter beken, kiyai kondang, penyanyi terkenal, aktivis, rektor, dirjen sampai menteri. Waktu itu saya bahkan bisa telepon mereka kapan saja sayamau, bahkan seenaknya kirim SMS meski isinya sekedar guyonan. Tentu saja, karena waktu itu saya memimpin sebuah penerbitan pers dan mereka jelas punya kepentingan dalam berdekatan dengan saya. Tapi bagaimana kalau kita tak lagi memiliki 'posisi' penting?
Di zaman saya bekerja di penerbitan pers sebagai redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi, hal ini selalu saya katakan pada wartawan-wartawan. Saya selalu minta agar mereka tidak gampang belagu setelah kenal dengan pejabat dan pengusaha, dan jangan punya pendapat bahwa para narasumber itu akan menolong kita setelah kita tidak bekerja di kantor.
Ketika saya pensiun dini tahun 2001, saya mempraktekkan hal itu. Sebelum mereka men-delete nomor HP dan menghapus account email saya, saya lebih dulu 'menyembunyikan diri' dari mereka, alih-alih minta job atau proyek. Dan meskipun sebagai wartawan saya merasa tidak pernah pensiun atau mengundurkan diri, memang belakangan saya ingat2, tidak ada lagi dari para narasumber saya itu yang mau menghubungi saya. Positifnya, saya weruh sedurung winarah sehingga saya terbebas dari post power sindrom.
Tentu tidak semua seperti itu. Terbukti, Dr. Rhenald Kasali menjadi salah satu relasi saya dari begitu banyak relasi saya yang terkenal, yang tidak melupakan saya, setelah saya lengser. Bahkan di suatu kurun waktu, (mungkin kuatir saya tidak memperoleh nafkah lagi setelah tidak lagi dapat gaji dari Kompas Gramedia)dia memberi job saya dengan cara elegan, yaitu sering pesan bunga ke istri saya. Jeleknya, selama itu, saya tetap mencoba tidak mau berkontak langsung dengan beliau sehingga kesannya saya sombong 'kali. (Padahal saya cuma ingin tau diri)
Tentu saja tetap berhubungan baik adalah pekerjaan mulia, karena itu bagian dari silaturahmi. Cuma saya cuma ingin mengatakan, jangan terlalu mengandalkan mereka. Apalagi kalau yang diandalkan adalah hidup (keluarga) Anda.
Hal berikut yang saya utarakan kepada teman2 itu adalah kenyataan bahwa ide wartawan itu memang banyak. Tapi kalau dicermati, setelah tidak lagi bekerja di penerbitan pers, ternyata ilmu kita cuma satu, yaitu menulis. Sehingga kita sebagai wartawan lengser sering punya cita-cita baku: membuat suratkabar atau media cetak. Kita rupanya lupa, perusahaan penerbitan pers tidak sama dengan toko onderdil, atau bengkel motor. Seorang kutukupret di bengkel motor, kalau mau, dan serius, bisa saja menyaingi bekas majikannya dengan ikut membuka bengkel motor. Tapi wartawan lengser yang mau bikin penerbitan pers, perusahaan radio atau televisi? Mungkin saja, kalau Anda beruntung bertemu dengan investor yang mau percaya menitipkan uangnya untuk dipertaruhkan oleh Anda. Tapi jangan lupa, dengan cara itu Anda masih tetap jadi orang gajian, dan belum naik pangkat. Buat apa lengser dong?
Hehehe.... tidak lagi menerima gaji bulanan dan kehilangan tunjangan2 lain emang enak?
11 November 2008
27 Juni 2008
Seandainya SGA Jadi Bos Gramedia Majalah...
Saya kerap berandai-andai kalau saja SGA jadi direktur gramedia majalah. Kemungkinan pertama, majalah jadi amburadul, karena SGA lebih suka nulis cerpen. Karena wajahnya suka sangar dan kalau melihat orang tidak bisa santun, mungkin saja manajemen yang dibangun jadi kaco. Tapi bisa jadi, majalah tambah ngetop. Karena dia terbukti bukan jago kandang. Dia tahu masalah. Relasinya luas sampai ke mancanegara. Dan yang pasti dia bukan jenis jago kandang, yang galaknya cuma di kandang sendiri tapi di luar kandang sungguh cuma macan ompong. Dan kalau wacana ini beredar, sudah pasti kaum established pasang kuda-kuda. However, ini prestasi teman saya. Saya pasang, sebagai homage untuk dedikasinya di dunia sastra, sesuatu yang saya ternyata tidak mampu melakukannya.Karya Seno Gumira Cerpen Terbaik
Jakarta, Kompas - Cerpen ”Cinta di Atas Perahu Cadik” (dimuat di Kompas, Minggu, 10 Juni 2007) karya Seno Gumira Ajidarma dipilih dewan juri Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono sebagai Cerpen Terbaik Kompas Tahun 2007. Cerpen Seno tersebut menyisihkan 14 cerpen Kompas pilihan 2007 yang dibukukan dan Kamis (26/6) diluncurkan. Bersamaan dengan itu juga digelar Pameran Ilustrasi Kompas.
Sapardi dalam pidato pertanggungjawabannya selaku juri mengatakan, agak sulit menjelaskan alasannya menentukan cerpen yang terbaik karena penilaian juri subyektif.
Atas karya terbaiknya itu, Seno mendapatkan penghargaan yang diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono. Bagi Seno, ini adalah cerpen keduanya yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas. Sebelumnya, karya Seno yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas adalah ”Pelajaran Mengarang”, saat pertama kali Kompas membukukan cerpen-cerpen pilihan.
”Tak ada yang juara. Yang ada adalah kemenangan wacana,” kata Seno dalam sambutan singkatnya.
Cerpenis lain yang diperkenalkan dan karya-karya dimuat dalam buku Cinta di Atas Perahu Cadik: Cerpen Kompas Pilihan 2007 adalah Adek Alwi, Agus Noor, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Fransisca Dewi Ria Utari, GM Sudharta, Gus tf Sakai, Puthut EA, Soeprijadi Tomodihardjo, Triyanto Wonokromo, Ugoran Prasad, dan Wilson Nadeak.
Sapardi mencermati, pada cerpen-cerpen Kompas ada yang khas, yakni ”goyangan” kelisanan dengan keberaksaraan, yang agak terasa. Ada keinginan cerpenis untuk berbicara kepada orang (pembaca). Namun, karena ruang terbatas, tak memungkinkan cerpenis menata peristiwa-peristiwa dalam urutan yang teratur.
Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto mengatakan, cerpen sudah ada di Kompas sejak tahun 1978, tetapi baru dibukukan dalam bentuk cerpen-cerpen terpilih sejak 1991 sampai sekarang.
”Sejak dua tahun lalu, penjurian untuk memilih cerpen terbaik dilakukan oleh juri dari pihak luar yang ditunjuk Kompas. Sebelumnya hanya dilakukan oleh orang dalam lingkungan Kompas sendiri,” katanya.
Menurut Sapardi, agar cerpen tetap dibaca orang—karena harus bersaing dengan berita—cerpen harus lebih sensasional dari berita. (NAL)
Sapardi dalam pidato pertanggungjawabannya selaku juri mengatakan, agak sulit menjelaskan alasannya menentukan cerpen yang terbaik karena penilaian juri subyektif.
Atas karya terbaiknya itu, Seno mendapatkan penghargaan yang diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono. Bagi Seno, ini adalah cerpen keduanya yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas. Sebelumnya, karya Seno yang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas adalah ”Pelajaran Mengarang”, saat pertama kali Kompas membukukan cerpen-cerpen pilihan.
”Tak ada yang juara. Yang ada adalah kemenangan wacana,” kata Seno dalam sambutan singkatnya.
Cerpenis lain yang diperkenalkan dan karya-karya dimuat dalam buku Cinta di Atas Perahu Cadik: Cerpen Kompas Pilihan 2007 adalah Adek Alwi, Agus Noor, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Fransisca Dewi Ria Utari, GM Sudharta, Gus tf Sakai, Puthut EA, Soeprijadi Tomodihardjo, Triyanto Wonokromo, Ugoran Prasad, dan Wilson Nadeak.
Sapardi mencermati, pada cerpen-cerpen Kompas ada yang khas, yakni ”goyangan” kelisanan dengan keberaksaraan, yang agak terasa. Ada keinginan cerpenis untuk berbicara kepada orang (pembaca). Namun, karena ruang terbatas, tak memungkinkan cerpenis menata peristiwa-peristiwa dalam urutan yang teratur.
Wakil Pemimpin Umum Kompas St Sularto mengatakan, cerpen sudah ada di Kompas sejak tahun 1978, tetapi baru dibukukan dalam bentuk cerpen-cerpen terpilih sejak 1991 sampai sekarang.
”Sejak dua tahun lalu, penjurian untuk memilih cerpen terbaik dilakukan oleh juri dari pihak luar yang ditunjuk Kompas. Sebelumnya hanya dilakukan oleh orang dalam lingkungan Kompas sendiri,” katanya.
Menurut Sapardi, agar cerpen tetap dibaca orang—karena harus bersaing dengan berita—cerpen harus lebih sensasional dari berita. (NAL)
25 Mei 2008
Bikin Majalah Itu Gampang (di Gramedia)
Orang Gramedia Majalah itu hebat-hebat. Bikin majalah, kayak bikin anak. Ceprot-ceprot. Hanya dalam waktu singkat, begitu bos di rapat memutuskan, majalah bisa langsung terbit. Bagus. Namanya, Gramedia Majalah. Bikin majalah mah perkara sipil.
Saya tidak memfitnah. Sumpah. Dulu waktu saya diminta membuat majalah TIARA, pun begitu. Mas Wendo hanya memberi waktu saya sebulan untuk staffing. Waktu saya bilang, mustahil karena PSDM (waktu itu) tidak punya database calon karyawan/ wartawan, Mas Wendo tidak mau tau. “Terserah kamu. Pokoknya bulan ketiga, terbit.”
Karena saat itu saya sudah jadi orang Gramedia Majalah dua tahun, maka saya bisa. Belum genap sebulan saja saya sudah berhasil merekrut 10 calon karyawan dan wartawan. Tentu saja, yang saya samber adalah orang-orang yang saya kenal, seperti Tine (Yustina Endah Rahayu) untuk sekretaris saya, Julie Erikania, dll. untuk reporter saya. Untung waktu itu belum ada istilah KKN. Juga, untungnya, mereka belakangan juga harus melewati test seperti lainnya. Ada yang diterima, ada pula yang terpaksa tidak terpakai. Biasa.
Saat itu, datang Dharnoto, yang kebetulan, sudah tidak betah di Jakarta-Jakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, Dia saya jadikan Redaktur Pelaksana. Eh waktu lagi jalan, banyak wartawan dan karyawan JJ yang melamar juga. Enak saja. Yang saya terima Wicki, karena --hehehe....-- pacarnya teman saya, Gadung Bondowoso.
Ah, ini sekadar cerita betapa mudahnya bikin majalah waktu itu, entah sekarang, ketika zaman susah, persaingan banyak yang membuat konon para bos gampang bete.
Nah, persoalan baru muncul waktu majalah tersebut harus dijual.
Bos mah enak. Sambil duduk makan tempe goreng dan kopi (waktu itu sajian rapat adalah tempe goreng, kalau sekarang saya dengar sudah mulai Pizza Hut, dan Hoka Hoka Bento ya?) dia santai saja memasang target tiras penjualan selakigus memasang target perolehan iklan yang harus diraih dalam kurun waktu tertentu.
Kucluknya, para pimpinan di marketing seperti bagian penjualan (distribusi), dan iklan, mengangguk-angguk saja kayak burung kuntul. Mereka paling langsung meminta bagian promosi supaya mendukung. Usulan pun berhamburan untuk bikin alat promosi. Yang paling populer diusulkan waktu itu adalah: stiker, topi dan pulpen. Hahaha....
Begitulah, rapat bubar.
Adegan-adegan lucu mulai terjadi pada saat rapat evaluasi, pada bulan berikutnya, karena ternyata target meleset jauh.
Bagian distribusi ternyata tidak bisa menjual majalah sebagaimana yang ditetapkan. Demikian juga pihak iklan ternyata tidak bisa mendapat doku sebagaimana yang ditargetkan.
Para pihak yang disalahkan, tentu saja tidak mau kehilangan malu. Heran, seperti paduan suara mereka menuding bagian promosi, tidak bekerja optimal.
Orang distribusi bilang, stiker –seperti halnya Bantuan Langsung Tunai-- tidak disebar ke alamat yang tepat sehingga tidak tepat sasaran. Orang iklan mengamini. “Stikernya, kurang berkelas sih. Gampang luntur…..”
Orang promosi mulai gerah. Kalau boleh saja, dia pengen membanting gelas, dan mengobrak-abrik tempe goreng di meja rapat. Tapi melihat mata bos mentheleng, nyali merosot juga.
Supaya kelihatan tidak salah, paling gampang dia ganti menuding. “Redaksi sih…. Covernya jelek. Tidak berkelas. Isinya tidak bagus. Jadi percuma saja, promosi yang kita lakukan.”
Dan jangan lupa, di ruang rapat itu, juga biasanya ada petugas bagian pra-cetak. Tapi seperti sejawatnya, mereka juga biasanya, pinter ngeles. Kalau masalahnya agak serius, seperti dibilang separasinya meleset, atau warnanya enggak muncul, Mbak Lis (uups sori, saya keprucut nyebut nama) biasanya sudah punya formula khusus untuk 'menaklukkan' sampeyan. (Hehehe.... kalau ketemu, salam dari KJ!)
Nah kalau adegan-adegan mirip di atas berlangsung terus, --artinya tiras majalah Anda tidak naik-naik, atau iklan di majalah sampeyan tidak nambah-nambah juga-- dan Anda sebagai redaksi berada di pihak yang tidak berkutik sama sekali, yah, tunggu nasib sajalah. Majalah Anda --lambat atau cepat-- akan dilikuidasi alias ditutup. Kalau Anda dianggap menyebalkan, tidak kooperatif, malah lebih celaka. Anda dikasih target baru: boleh terus terbit, tapi harga majalah Anda dinaikkan. Mampus gak tuh. Jangan pikir macam-macam. Karyawan dan wartawan Anda akan diBKO-kan ke bagian mana saja. Yang suka artis, masuk ke tabloid artis, yang perlente masuk tabloid wanita, yang suka komputer masuk ke majalah komputer, yang suka tanaman dan bercocok tanam ya masuk ke .... bagian umum!
Anehnya, bagian distribusi, promosi, pra-cetak atau iklan sampai sekarang --di zaman reformasi, dan sudah ganti 4 presiden dan pak jakob pensiun-- tetap tidak pernah dilikuidasi untuk kesalahannya. Bukankah mereka juga seperti rocker, alias manusia juga, yang mestinya bisa bersalah? Atau cari penggantinya susah?
Hehehe... Saya tidak tau, apa dagelan semacam itu masih berlangsung di ruang rapat Anda. Kalau ya, kabari saya.
Saya tidak memfitnah. Sumpah. Dulu waktu saya diminta membuat majalah TIARA, pun begitu. Mas Wendo hanya memberi waktu saya sebulan untuk staffing. Waktu saya bilang, mustahil karena PSDM (waktu itu) tidak punya database calon karyawan/ wartawan, Mas Wendo tidak mau tau. “Terserah kamu. Pokoknya bulan ketiga, terbit.”
Karena saat itu saya sudah jadi orang Gramedia Majalah dua tahun, maka saya bisa. Belum genap sebulan saja saya sudah berhasil merekrut 10 calon karyawan dan wartawan. Tentu saja, yang saya samber adalah orang-orang yang saya kenal, seperti Tine (Yustina Endah Rahayu) untuk sekretaris saya, Julie Erikania, dll. untuk reporter saya. Untung waktu itu belum ada istilah KKN. Juga, untungnya, mereka belakangan juga harus melewati test seperti lainnya. Ada yang diterima, ada pula yang terpaksa tidak terpakai. Biasa.
Saat itu, datang Dharnoto, yang kebetulan, sudah tidak betah di Jakarta-Jakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, Dia saya jadikan Redaktur Pelaksana. Eh waktu lagi jalan, banyak wartawan dan karyawan JJ yang melamar juga. Enak saja. Yang saya terima Wicki, karena --hehehe....-- pacarnya teman saya, Gadung Bondowoso.
Ah, ini sekadar cerita betapa mudahnya bikin majalah waktu itu, entah sekarang, ketika zaman susah, persaingan banyak yang membuat konon para bos gampang bete.
Nah, persoalan baru muncul waktu majalah tersebut harus dijual.
Bos mah enak. Sambil duduk makan tempe goreng dan kopi (waktu itu sajian rapat adalah tempe goreng, kalau sekarang saya dengar sudah mulai Pizza Hut, dan Hoka Hoka Bento ya?) dia santai saja memasang target tiras penjualan selakigus memasang target perolehan iklan yang harus diraih dalam kurun waktu tertentu.
Kucluknya, para pimpinan di marketing seperti bagian penjualan (distribusi), dan iklan, mengangguk-angguk saja kayak burung kuntul. Mereka paling langsung meminta bagian promosi supaya mendukung. Usulan pun berhamburan untuk bikin alat promosi. Yang paling populer diusulkan waktu itu adalah: stiker, topi dan pulpen. Hahaha....
Begitulah, rapat bubar.
Adegan-adegan lucu mulai terjadi pada saat rapat evaluasi, pada bulan berikutnya, karena ternyata target meleset jauh.
Bagian distribusi ternyata tidak bisa menjual majalah sebagaimana yang ditetapkan. Demikian juga pihak iklan ternyata tidak bisa mendapat doku sebagaimana yang ditargetkan.
Para pihak yang disalahkan, tentu saja tidak mau kehilangan malu. Heran, seperti paduan suara mereka menuding bagian promosi, tidak bekerja optimal.
Orang distribusi bilang, stiker –seperti halnya Bantuan Langsung Tunai-- tidak disebar ke alamat yang tepat sehingga tidak tepat sasaran. Orang iklan mengamini. “Stikernya, kurang berkelas sih. Gampang luntur…..”
Orang promosi mulai gerah. Kalau boleh saja, dia pengen membanting gelas, dan mengobrak-abrik tempe goreng di meja rapat. Tapi melihat mata bos mentheleng, nyali merosot juga.
Supaya kelihatan tidak salah, paling gampang dia ganti menuding. “Redaksi sih…. Covernya jelek. Tidak berkelas. Isinya tidak bagus. Jadi percuma saja, promosi yang kita lakukan.”
Dan jangan lupa, di ruang rapat itu, juga biasanya ada petugas bagian pra-cetak. Tapi seperti sejawatnya, mereka juga biasanya, pinter ngeles. Kalau masalahnya agak serius, seperti dibilang separasinya meleset, atau warnanya enggak muncul, Mbak Lis (uups sori, saya keprucut nyebut nama) biasanya sudah punya formula khusus untuk 'menaklukkan' sampeyan. (Hehehe.... kalau ketemu, salam dari KJ!)
Nah kalau adegan-adegan mirip di atas berlangsung terus, --artinya tiras majalah Anda tidak naik-naik, atau iklan di majalah sampeyan tidak nambah-nambah juga-- dan Anda sebagai redaksi berada di pihak yang tidak berkutik sama sekali, yah, tunggu nasib sajalah. Majalah Anda --lambat atau cepat-- akan dilikuidasi alias ditutup. Kalau Anda dianggap menyebalkan, tidak kooperatif, malah lebih celaka. Anda dikasih target baru: boleh terus terbit, tapi harga majalah Anda dinaikkan. Mampus gak tuh. Jangan pikir macam-macam. Karyawan dan wartawan Anda akan diBKO-kan ke bagian mana saja. Yang suka artis, masuk ke tabloid artis, yang perlente masuk tabloid wanita, yang suka komputer masuk ke majalah komputer, yang suka tanaman dan bercocok tanam ya masuk ke .... bagian umum!
Anehnya, bagian distribusi, promosi, pra-cetak atau iklan sampai sekarang --di zaman reformasi, dan sudah ganti 4 presiden dan pak jakob pensiun-- tetap tidak pernah dilikuidasi untuk kesalahannya. Bukankah mereka juga seperti rocker, alias manusia juga, yang mestinya bisa bersalah? Atau cari penggantinya susah?
Hehehe... Saya tidak tau, apa dagelan semacam itu masih berlangsung di ruang rapat Anda. Kalau ya, kabari saya.
Langganan:
Postingan (Atom)